Lonjakan Kasus Dugaan Campak di Pohuwato Picu Kewaspadaan, Rendahnya Imunisasi Jadi Sorotan

Kabupaten Pohuwato, Gorontalo, menghadapi peningkatan kasus suspek campak yang signifikan. Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo (Dinkes) telah mengaktifkan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) untuk memantau dan merespons situasi ini.

Beberapa wilayah di Pohuwato terancam masuk kategori Kejadian Luar Biasa (KLB) akibat lonjakan kasus ini. Kecamatan Duhiadaa dan Buntulia menjadi perhatian utama, dengan laporan masing-masing 13 dan 7 kasus.

Jeane Istanti Dalie, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Provinsi Gorontalo, mengungkapkan bahwa sebagian besar kasus dilaporkan dari rumah sakit. Gejala klinis yang muncul pada pasien menjadi dasar untuk menetapkan status suspek campak.

Data terbaru menunjukkan adanya 43 kasus suspek campak di Pohuwato. Ironisnya, 42 persen dari pasien tersebut tidak pernah mendapatkan imunisasi campak. Sementara itu, 47 persen lainnya memiliki status imunisasi yang tidak jelas.

"Hasil penyelidikan epidemiologi menunjukkan bahwa mayoritas kasus suspek campak ini terjadi pada anak-anak yang tidak mendapatkan imunisasi campak rubella. Hal inilah yang menjadi penyebab utama peningkatan kasus di Pohuwato," jelas Jeane.

Untuk memastikan apakah kasus-kasus ini benar-benar campak atau morbili, Dinkes akan melakukan pemeriksaan laboratorium. Hasil lab akan menjadi dasar penegakan diagnosis yang akurat.

"Kami melihat adanya kantong-kantong imunisasi yang belum terlayani dengan baik, terutama untuk vaksinasi campak dan rubella," tambah Jeane.

Menyikapi situasi ini, Dinkes menekankan pentingnya imunisasi sebagai langkah preventif utama terhadap Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I).

"Imunisasi adalah kunci untuk mencegah penyebaran campak dan penyakit menular lainnya, terutama pada anak-anak," tegas Jeane.

Dinkes telah mengambil langkah-langkah penanggulangan segera, termasuk:

  • Pembentukan tim penyelidikan epidemiologi.
  • Identifikasi sumber dan faktor risiko penularan.
  • Pemberian pengobatan simptomatik.
  • Pemberian vitamin A dosis tinggi.
  • Merujuk kasus berat ke rumah sakit.

Selain itu, Dinkes juga mendorong pelaksanaan Imunisasi Respon Wabah (Outbreak Response Immunization/ORI) tanpa memandang status imunisasi sebelumnya. Target cakupan ORI adalah minimal 95 persen.

Upaya edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat tentang bahaya campak, pentingnya imunisasi, dan gizi seimbang juga akan diintensifkan.

Jeane mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan waspada.

"Kami bekerja sama dengan Dinkes Kabupaten Pohuwato, puskesmas, rumah sakit, dan tokoh masyarakat untuk memastikan penanganan yang cepat dan tepat," ungkapnya.

Surveilans ketat akan terus dilakukan untuk mendeteksi kasus baru. Dinkes Provinsi Gorontalo juga mendesak Dinkes Kabupaten Pohuwato untuk segera menjalankan rekomendasi yang telah disampaikan. Perkembangan kasus akan terus dipantau dan dianalisis untuk menentukan langkah-langkah selanjutnya.

Diharapkan dengan upaya kolaboratif ini, peningkatan kasus dugaan campak di Pohuwato dapat segera dikendalikan dan tidak meluas.