Iran Tegaskan Pengayaan Uranium Tak Bisa Ditawar dalam Negosiasi dengan AS

Pemerintah Iran dengan tegas menolak permintaan Amerika Serikat (AS) untuk menghentikan sementara program pengayaan uranium sebagai prasyarat tercapainya kesepakatan nuklir yang baru. Penolakan ini disampaikan di tengah berlangsungnya perundingan antara kedua negara yang telah memasuki putaran kelima.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, dalam konferensi pers menyatakan bahwa Teheran tidak akan pernah menerima pembekuan pengayaan uranium, yang merupakan salah satu poin utama yang diajukan oleh Washington. Isu pengayaan uranium memang menjadi sorotan utama dalam perundingan beberapa waktu terakhir, di mana Iran bersikeras mempertahankan haknya untuk melakukan pengayaan uranium sebagai bagian dari program nuklir sipilnya.

Baqaei menepis laporan yang menyebutkan bahwa Iran mungkin akan membekukan pengayaan uranium selama tiga tahun demi mencapai kesepakatan dengan AS. Ia menyebut informasi tersebut sebagai "isapan jempol belaka dan sepenuhnya keliru". Baqaei juga menambahkan bahwa belum ada tanggal yang ditetapkan untuk putaran perundingan keenam dengan AS, dan Teheran masih menunggu informasi lebih lanjut dari mediator Oman mengenai waktu pelaksanaan perundingan berikutnya.

Perundingan antara Iran dan AS dimulai sejak April, menandai kontak tingkat tertinggi antara kedua negara sejak AS menarik diri dari kesepakatan nuklir pada 2015 di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump. Meskipun Trump menggambarkan perundingan antara delegasi Washington dan Teheran di Roma sebagai "sangat, sangat baik", Iran menyebutnya sebagai "rumit".

Iran bersikeras bahwa program nuklirnya semata-mata bertujuan untuk tujuan sipil, termasuk untuk energi. Teheran juga berpendapat bahwa tuntutan AS untuk menghentikan pengayaan uranium melanggar Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) yang telah ditandatanganinya. Iran menginginkan kesepakatan baru yang akan meringankan sanksi Barat yang menghambat perekonomiannya, tanpa mengorbankan program nuklirnya.

Sejak kembali ke Gedung Putih, Trump kembali mengkampanyekan "tekanan maksimum" terhadap Iran dan mendukung pembicaraan, tetapi memperingatkan tindakan militer jika diplomasi gagal. Dia bertekad untuk membatasi potensi Teheran untuk memproduksi senjata nuklir, yang menurutnya dapat memicu perlombaan senjata nuklir regional dan berpotensi mengancam Israel.

Baqaei menegaskan bahwa jika ada niat baik dari pihak Amerika, Iran optimis akan hasil perundingan. Namun, ia memperingatkan bahwa jika perundingan bertujuan untuk mengekang hak-hak Iran, maka perundingan tersebut tidak akan membuahkan hasil.

Berikut adalah poin-poin penting yang perlu diperhatikan:

  • Iran menolak menghentikan pengayaan uranium.
  • Perundingan nuklir dengan AS masih berlangsung.
  • Iran mengklaim program nuklirnya untuk tujuan sipil.
  • AS ingin membatasi potensi Iran membuat senjata nuklir.
  • Sanksi ekonomi terhadap Iran masih menjadi isu utama.