Prevalensi Stunting di Indonesia Menurun Signifikan, Pemerintah Optimis Capai Target Nasional
Pemerintah Indonesia mengumumkan penurunan signifikan dalam angka prevalensi stunting, sebuah pencapaian yang melampaui target yang ditetapkan sebelumnya. Kabar baik ini disampaikan dalam acara diseminasi yang diadakan di Auditorium Siwabessy, Gedung Kementerian Kesehatan, Jakarta Selatan, pada Senin (26/5/2025).
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan bahwa angka stunting berhasil ditekan menjadi 19,8 persen, melampaui target awal sebesar 20,1 persen yang ditetapkan untuk tahun sebelumnya. "Alhamdulillah, hasilnya 19,8 persen. Artinya, kita berhasil melampaui target sebesar 0,3 persen," ungkapnya dalam sambutannya. Pencapaian ini menandai kemajuan penting dalam upaya pemerintah untuk meningkatkan kesehatan dan gizi anak-anak di seluruh nusantara.
Namun, Menkes menekankan bahwa tantangan yang dihadapi masih besar. Pemerintah telah menetapkan target yang lebih ambisius untuk menurunkan prevalensi stunting menjadi 18,8 persen pada tahun 2025 dan 14,2 persen pada tahun 2029, sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). "Target ini cukup menantang. Kita harus turun 7,3 persen dalam lima tahun," ujarnya.
Dalam upaya mencapai target tersebut, pemerintah telah mengidentifikasi enam provinsi dengan jumlah kasus stunting tertinggi sebagai prioritas utama penanganan, yaitu:
- Jawa Barat: 638 ribu balita
- Jawa Tengah: 485.893 balita
- Jawa Timur: 430.780 balita
- Sumatera Utara: 316.456 balita
- NTT: 214.143 balita
- Banten: 209.600 balita
Menkes Budi Gunadi Sadikin menjelaskan bahwa jika keenam provinsi ini berhasil menurunkan angka stunting sebesar 10 persen, maka angka stunting secara nasional dapat berkurang sekitar 4-5 persen. Strategi intervensi yang komprehensif akan difokuskan pada provinsi-provinsi ini untuk memastikan dampak yang signifikan pada tingkat nasional.
Lebih lanjut, Menteri Kesehatan menyoroti pentingnya intervensi sejak masa kehamilan. Ia menekankan pentingnya distribusi tablet tambah darah, pengukuran lingkar lengan ibu hamil, pemeriksaan hemoglobin (Hb), dan suplementasi mikronutrien. "Stunting itu dimulai dari kandungan. Jangan sampai ibu hamil anemia atau kurang gizi," jelasnya.
Program penguatan Posyandu juga terus dilakukan, termasuk distribusi 300 ribu alat antropometri, dukungan ASI eksklusif, pemberian makanan tambahan (PMT), dan imunisasi. Langkah-langkah ini bertujuan untuk memastikan bahwa anak-anak menerima nutrisi dan perawatan yang optimal sejak dini.
Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kemenkes, Prof Asnawi Abdullah, menambahkan bahwa penurunan stunting ini berhasil menyelamatkan sekitar 337 ribu balita dari risiko stunting, lebih tinggi dari target RPJMN sebesar 325 ribu. Namun, ia mengingatkan adanya kesenjangan prevalensi antarwilayah dan kelompok sosial ekonomi. "Kelompok pendapatan sangat rendah jauh lebih rentan terhadap stunting. Ini perlu jadi fokus intervensi," ujarnya.
Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 dilakukan di 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota, dengan dukungan berbagai pihak termasuk WHO, CEMMIO, RedPhone, dan Prospera. Data hasil survei juga bisa diakses publik melalui situs resmi BKPK Kemenkes. "Data ini harus dimanfaatkan untuk perencanaan dan evaluasi program, agar kebijakan benar-benar berdampak," tutup Prof Asnawi.