BGN Dorong Intervensi Gizi Remaja untuk Optimalkan Tinggi Badan
Badan Gizi Nasional (BGN) menekankan urgensi intervensi gizi yang tepat bagi remaja, khususnya para santri dan santriwati, sebagai upaya krusial untuk mengoptimalkan pertumbuhan fisik dan mencegah potensi masalah stunting atau tubuh pendek.
Penegasan ini disampaikan oleh Kepala BGN, Dadan Hindayana, dalam acara peluncuran pembangunan 1.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Pondok Pesantren Syaichona Muhammad Cholil, Bangkalan. Dadan menjelaskan bahwa remaja, terutama yang berusia antara 12 hingga 16 tahun, berada pada fase pertumbuhan penting yang dikenal sebagai second peak. Fase ini merupakan kesempatan emas untuk memaksimalkan potensi pertumbuhan mereka.
"Jika intervensi gizi seimbang tidak dilakukan saat ini, ada kemungkinan besar pertumbuhan tinggi badan mereka tidak akan optimal," ujar Dadan. Ia menambahkan bahwa terdapat dua fase kritikal dalam pertumbuhan manusia. Fase pertama adalah 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yang dimulai sejak dalam kandungan hingga usia dua tahun, yang sangat penting untuk perkembangan otak. Fase kedua adalah masa remaja, yang menjadi kunci utama pertumbuhan fisik.
Kepala BGN menyoroti bahwa tanpa intervensi gizi yang tepat, tinggi badan remaja mungkin hanya berkisar antara 160 hingga 165 cm. Namun, dengan asupan makanan bergizi yang memadai, potensi untuk mencapai tinggi badan minimal 180 cm sangat mungkin tercapai. Dadan mengambil contoh dari pengalaman pribadinya dengan kedua putranya yang memiliki tinggi badan 181 cm dan 185 cm. Menurutnya, hal ini dicapai berkat asupan gizi yang cukup sejak kecil, termasuk konsumsi susu secara rutin.
"Tinggi badan bukan hanya ditentukan oleh faktor genetik, tetapi juga oleh asupan gizi yang cukup dan seimbang," tegas Dadan. Ia menjelaskan bahwa kedua putranya mengonsumsi susu sejak kecil hingga kelas 2 SMA, bahkan hingga 2 liter sehari pada masa pertumbuhan. Hal ini berdampak positif pada pertumbuhan tulang dan tinggi badan mereka.
Lebih lanjut, Dadan mengungkapkan keprihatinannya terhadap fakta bahwa sekitar 60 persen anak-anak di Indonesia kurang mendapatkan akses terhadap makanan bergizi seimbang. Mereka seringkali hanya mengandalkan makanan sederhana seperti nasi dengan mi instan, bakwan, atau kerupuk.
Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah menginisiasi program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dadan menjelaskan bahwa program MBG memastikan setiap menu makanan mengandung unsur-unsur gizi penting seperti nasi, telur, ayam, ikan, sayur, buah, dan susu. Standar gizi seimbang ini wajib dipenuhi dalam setiap hidangan yang disajikan.
Selain itu, Dadan juga menyoroti bahwa banyak anak Indonesia tidak mengonsumsi susu bukan karena kurangnya pengetahuan, tetapi karena keterbatasan ekonomi. Program MBG diharapkan dapat menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anak, terutama dalam menyambut Indonesia Emas 2045.
"Presiden menekankan bahwa MBG adalah program strategis karena berfokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia untuk mencapai Indonesia Emas 2045," ujar Dadan. Ia menambahkan bahwa para santri yang saat ini sedang menempuh pendidikan akan menjadi generasi produktif Indonesia pada tahun 2045. Oleh karena itu, pemenuhan gizi sejak dini sangat penting agar bonus demografi dapat dimanfaatkan secara optimal dan menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Intervensi gizi merupakan kunci utama untuk mencapai tujuan tersebut.