Harga TBS Merosot Tajam, Petani Sawit di Berau Meradang
Petani Sawit di Berau Tercekik Akibat Anjloknya Harga TBS
Ratusan petani kelapa sawit di Kecamatan Segah, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, kini menghadapi masa sulit akibat penurunan drastis harga Tandan Buah Segar (TBS) di tingkat perusahaan. Kondisi ini memicu keresahan dan kekecewaan mendalam di kalangan petani yang menggantungkan hidupnya pada komoditas ini.
Fluktuasi Harga yang Meresahkan
Menurut penuturan para petani, harga TBS di PT Berau Agro Asia (BAA) telah mengalami perubahan sebanyak delapan kali hanya dalam kurun waktu satu bulan, tepatnya sejak awal Mei 2024. Harga awal yang semula berada di angka Rp 3.210 per kilogram, kini merosot menjadi Rp 2.920 per kilogram. Penurunan yang begitu cepat dan signifikan ini jelas memukul telak perekonomian para petani sawit di wilayah tersebut.
Kamaruddin, salah seorang petani sawit setempat, mengungkapkan betapa fluktuasi harga yang ekstrem ini membuat mereka kesulitan untuk merencanakan keuangan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ia juga menyayangkan ketidakstabilan harga yang terjadi di tengah kondisi pasar yang seharusnya menguntungkan.
Berikut rincian penurunan harga TBS di PT.BBA pada bulan mei:
- Tanggal 2 Mei : Rp. 3.210 per Kilogram
- Tanggal 3 Mei : Rp. 3.160 per Kilogram
- Tanggal 5 Mei : Rp. 3.130 per Kilogram
- Tanggal 6 Mei : Rp. 3.030 per Kilogram
- Tanggal 7 Mei : Rp. 2.980 per Kilogram
- Tanggal 10 Mei : Rp. 2.940 per Kilogram
- Tanggal 15 Mei : Rp. 2.970 per Kilogram
- Tanggal 27 Mei : Rp. 2.920 per Kilogram
Kejanggalan di Tengah Harga CPO yang Stabil
Keresahan petani semakin bertambah ketika mereka mengetahui bahwa harga Crude Palm Oil (CPO) di pasaran justru cenderung stabil, bahkan berada di atas Rp 3.200 per kilogram. Haji Sahil, petani sawit lainnya, mempertanyakan mengapa harga TBS di tingkat perusahaan justru mengalami penurunan yang tajam, padahal harga CPO sebagai produk olahan kelapa sawit masih cukup tinggi.
Kondisi ini menimbulkan kecurigaan di kalangan petani bahwa ada praktik permainan harga yang dilakukan secara sepihak oleh perusahaan. Mereka juga mempertanyakan kurangnya transparansi dan koordinasi antara perusahaan dengan Dinas Perkebunan dalam menetapkan harga TBS.
Potongan Persentase yang Memberatkan
Selain masalah penurunan harga, petani juga mengeluhkan adanya potongan persentase yang tinggi pada setiap buah yang dibongkar. Jika sebelumnya potongan berkisar antara 3 persen, kini potongan yang dikenakan mencapai 4-5 persen. Hal ini semakin memberatkan beban ekonomi para petani yang sudah terhimpit oleh penurunan harga TBS.
Harapan Akan Solusi yang Berpihak pada Petani
Ratusan petani sawit di Kecamatan Segah berharap agar ada solusi yang konkret untuk menstabilkan harga TBS dan memastikan harga yang adil bagi mereka. Mereka juga berharap agar pihak-pihak terkait dapat segera melakukan evaluasi dan perbaikan jika terdapat permasalahan dalam sistem penetapan harga TBS.
Para petani berharap agar pemerintah daerah dan pihak perusahaan dapat duduk bersama untuk mencari solusi yang berpihak pada kepentingan petani sawit. Mereka juga berharap agar ada transparansi dan koordinasi yang lebih baik antara perusahaan dengan Dinas Perkebunan dalam menetapkan harga TBS.
Perbandingan Harga dengan Perusahaan Lain
Disisi lain beberapa perusahaan lain disekitaran Kabupaten Berau memberikan harga yang berbeda dengan PT BAA. PT Hutan Hijau Mas (HHM) memberikan harga sebesar Rp.3000 dan PT Natura Pasifik Nusantara (NPN) memberikan Harga TBS sebesar Rp.3105. Hal ini membuat petani semakin meradang.
Bahkan, di Wahau, Kabupaten Kutai Timur harga TBS dilaporkan mencapai Rp 3.300 lebih. Hal ini semakin memperkuat dugaan petani akan adanya perbedaan kebijakan harga yang merugikan mereka di PT BAA.