Gelombang Pasang Akibat Super New Moon Kembali Rendam Permukiman di Muara Angke

Jakarta Utara kembali dilanda banjir rob pada Selasa (27/5/2025) malam, menyebabkan ratusan rumah di wilayah Muara Angke, Penjaringan, terendam air. Banjir ini berdampak pada sekitar 200 rumah yang berada di 12 RT di RW 22.

Menurut keterangan dari Tim Reaksi Cepat BPBD DKI Jakarta, banjir diakibatkan oleh naiknya air laut yang dipicu oleh fenomena super new moon. Ketinggian air bervariasi antara 40 hingga 60 sentimeter, mengganggu aktivitas warga dan meresahkan penduduk setempat. Air mulai menggenangi pemukiman sekitar pukul 23.00 WIB dan berangsur surut pada pagi harinya. Kondisi ini telah berlangsung selama tiga malam berturut-turut, menambah kekhawatiran warga akan potensi banjir susulan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah mengeluarkan peringatan dini terkait potensi banjir rob di wilayah pesisir Jakarta yang diperkirakan berlangsung dari tanggal 21 Mei hingga 4 Juni 2025. Fenomena super new moon, yang terjadi pada tanggal 27 Mei 2025, menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan peningkatan ketinggian air laut secara signifikan. Super new moon sendiri merupakan kondisi ketika bulan berada pada posisi terdekat dengan bumi bersamaan dengan fase bulan baru.

Menanggapi situasi ini, BPBD DKI Jakarta mengimbau warga Muara Angke untuk meningkatkan kewaspadaan dan mengambil langkah-langkah pencegahan untuk mengurangi dampak banjir. Beberapa langkah antisipasi yang disarankan meliputi:

  • Pengamanan barang-barang berharga ke tempat yang lebih tinggi dan aman.
  • Memantau perkembangan informasi cuaca dan peringatan dini dari BMKG dan BPBD.
  • Menyiapkan perbekalan darurat seperti makanan, air bersih, dan obat-obatan.
  • Berkoordinasi dengan perangkat RT/RW dan petugas terkait untuk mendapatkan bantuan dan informasi lebih lanjut.

Pemerintah daerah terus berupaya untuk meminimalkan dampak banjir rob melalui berbagai upaya, termasuk pembangunan tanggul dan sistem drainase yang lebih baik. Namun, kesadaran dan partisipasi aktif dari masyarakat juga sangat diperlukan untuk menghadapi potensi bencana hidrometeorologi di wilayah pesisir.