Penemuan Ikan Coelacanth di Maluku Utara Ungkap Misteri Evolusi Laut Dalam

Temuan Langka: Ikan Purba Coelacanth Kembali Muncul di Perairan Maluku Utara

Dunia ilmu pengetahuan kembali dikejutkan dengan penemuan ikan coelacanth (Latimeria menadoensis) di perairan Maluku Utara. Ikan purba yang diperkirakan telah punah sejak zaman dinosaurus ini, kembali menunjukkan eksistensinya dalam sebuah ekspedisi yang dilakukan pada Oktober 2024.

Ekspedisi yang melibatkan tim ilmuwan dari berbagai institusi, termasuk Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon, Underwater Scientific Exploration for Education (UNSEEN), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Universitas Khairun (Unkhair) Ternate, dan Universitas Udayana, berhasil mendokumentasikan seekor coelacanth dewasa dalam habitat aslinya. Temuan ini telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah pada 23 April 2025 dengan judul "First record of a living coelacanth from North Maluku, Indonesia". Yang lebih istimewa, dokumentasi ini merupakan foto dan video pertama yang diambil langsung oleh penyelam di habitat alami ikan tersebut.

Fakta Menarik Coelacanth:

  • Fosil Tertua: Fosil coelacanth tertua yang diketahui berumur lebih dari 410 juta tahun.
  • Sempat Dianggap Punah: Sebelum ditemukan kembali, ikan ini diduga punah pada zaman kapur, sekitar 66 juta tahun lalu.
  • Dua Spesies yang Masih Hidup: Hingga saat ini, terdapat dua spesies coelacanth yang masih hidup, yaitu Latimeria chalumnae dan L. menadoensis.
  • Karakteristik Fisik: Coelacanth merupakan ikan besar dan gemuk dengan sirip cuping. Panjangnya bisa mencapai lebih dari 5 meter dengan berat sekitar 90 kilogram. Mereka memiliki delapan sirip: dua sirip punggung, dua sirip dada, dua sirip perut, satu sirip dubur, dan satu sirip ekor. Ekornya hampir sama besar dan terbagi oleh seberkas sirip yang membentuk lobus.

Menurut M. Janib Achmad, peneliti dari Universitas Khairun Ternate yang terlibat dalam ekspedisi ini, coelacanth bukanlah ikan yang umum dikonsumsi. Di beberapa lokasi, ikan ini mulai dikomersilkan, meskipun populasinya di seluruh dunia diperkirakan hanya sekitar 500 ekor dan terus menurun. Hal ini membuat coelacanth menjadi target bagi kolektor yang ingin menjadikannya hewan peliharaan atau pajangan yang diawetkan.

Habitat dan Perilaku

Coelacanth hidup di laut dalam, pada kedalaman antara 80 hingga 155 meter, dengan suhu air antara 14 hingga 18 derajat Celsius. Ikan ini terkadang naik ke permukaan pada malam hari untuk mencari makan, memangsa ikan bentik kecil dan berbagai jenis cephalopoda. Coelacanth adalah "pemakan pasif" yang bergerak perlahan mengikuti arus dan memakan apa pun yang ditemuinya. Mereka aktif di malam hari (piscivora nokturnal) dan beristirahat di siang hari, biasanya di daerah berkarang dengan lubang-lubang besar seperti goa. Keberadaan coelacanth juga menjadi indikator kualitas perairan di suatu daerah. Ikan ini bersifat demersal dengan migrasi terbatas, sehingga keberadaannya sangat bergantung pada kondisi habitatnya.

Legenda dan Konservasi

Di kalangan masyarakat lokal Maluku Utara, coelacanth dikenal dengan nama "Roto" dan menjadi bagian dari cerita rakyat. Ikan ini sering digunakan oleh para ibu untuk menakut-nakuti anak-anak agar tidak mandi terlalu lama di pantai. Secara fisik, coelacanth mirip dengan ikan kerapu macan, sehingga kadang disebut sebagai "ikan goropa besar". Perbedaannya terletak pada siripnya yang menyerupai kaki dan tangan, memberikan kesan seperti terbang saat berenang.

Penemuan coelacanth di Indonesia pertama kali terjadi pada 28 September 1997 di Manado, Sulawesi Utara, oleh Arnaz dan Mark V. Erdmann. Mereka menemukan ikan ini dijual di pasar tradisional dan mendokumentasikannya. Penemuan ini kemudian mengkonfirmasi bahwa coelacanth yang ditemukan di Indonesia sama dengan yang ada di Komoro, Afrika Selatan.

Penemuan coelacanth di Maluku Utara menjadi bukti kekayaan biodiversitas laut Indonesia. Para peneliti berharap temuan ini dapat mendorong upaya konservasi yang lebih masif, serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga ekologi laut. Dengan demikian, Maluku Utara berpotensi menjadi tujuan wisata bahari (marine eco-wisata) yang menarik bagi para peneliti dan pecinta alam dari seluruh dunia.