Banjir Rob Landa Kepulauan Sumenep, Timbul Kekhawatiran Ancaman Kesehatan Akibat Sampah Plastik
Memasuki hari kelima, banjir rob masih merendam tiga pulau di Desa Saobi, Kecamatan Kangayan, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran akan kesehatan warga, terutama karena banjir bercampur dengan sampah plastik yang berserakan.
Banjir rob yang menjadi peristiwa tahunan di wilayah ini diperparah dengan masalah sampah. Ketiadaan tempat pemrosesan akhir (TPA) sampah yang memadai di tiga pulau tersebut menyebabkan sampah plastik milik warga hanyut dan bercampur dengan air banjir. Pemandangan sampah mengambang di pekarangan rumah dan jalan raya menjadi hal yang lumrah sejak hari pertama banjir.
"Sampah itu milik warga yang hanyut terbawa banjir," ungkap Hosaini, Kepala Desa Saobi. Air yang bercampur sampah ini menjadi keruh dan berwarna kehitaman. Mirisnya, warga, termasuk anak-anak, masih harus beraktivitas di tengah genangan air yang kotor tersebut.
Menurut keterangan Hosaini, hingga saat ini belum ada laporan mengenai warga yang sakit akibat banjir rob ini. Ketinggian air di beberapa area masih mencapai 60 sentimeter dan belum menunjukkan tanda-tanda akan surut. Enam dari sembilan dusun di Desa Saobi yang tersebar di tiga pulau masih terendam banjir. Pemerintah desa telah memberitahukan forum pimpinan kecamatan (Forpimka) melalui pesan elektronik, namun belum ada respons.
"Sementara kami tidak bisa berbuat banyak terkait dengan bagaimana menangani banjir rob. Karena di Dusun Bungin Nyarat, misalnya, sumber rob berasal dari bawah tanah langsung," jelas Hosaini. Keterbatasan sumber daya dan penanganan yang komprehensif menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah desa.
Kepala Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Kangayan, Samsuri, mengonfirmasi bahwa sampah milik warga memang terbawa saat air pasang. Ia mengingatkan bahwa genangan air yang bercampur dengan sampah sangat berpotensi menimbulkan penyakit, seperti diare. Kontaminasi air dengan bakteri seperti e.coli, salmonella, atau Shigella menjadi ancaman serius bagi kesehatan warga.
Samsuri menjelaskan, genangan air dan sampah yang basah dapat mengundang lalat yang kemudian dapat menyebarkan kuman ke makanan dan menyebabkan infeksi perut, khususnya pada saluran pencernaan. Meski demikian, hingga hari kelima banjir rob, belum ada laporan mengenai warga yang jatuh sakit akibat banjir tahunan tersebut.
"Nanti saya tanya ke nakes di sana. Kalau ada, nanti bisa dirawat di pustu desa, kalau perlu bisa dirujuk ke Puskesmas," pungkas Samsuri. Pihak Puskesmas terus memantau kondisi kesehatan warga dan siap memberikan penanganan medis jika diperlukan.