Ritual Dzulhijjah: Masyarakat Osing Banyuwangi Gelar Tradisi Mepe Kasur Massal
Di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, tepatnya di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, masyarakat Suku Osing melestarikan tradisi unik yang disebut Mepe Kasur atau menjemur kasur. Tradisi ini dilaksanakan setiap tahun menjelang bulan Dzulhijjah, sebagai bagian dari ritual bersih desa. Ribuan kasur berwarna merah dan hitam dikeluarkan dari rumah-rumah warga dan dijemur di bawah sinar matahari pagi.
Pemandangan ini menjadi daya tarik tersendiri, dengan deretan kasur berwarna senada menghiasi sepanjang jalan desa. Warga membersihkan kasur-kasur tersebut dengan alat pemukul rotan, menghilangkan debu dan kotoran yang menempel. Lebih dari sekadar membersihkan, tradisi ini sarat akan makna filosofis dan spiritual bagi masyarakat Osing.
Mbah Ani, seorang tokoh sesepuh Desa Kemiren, menjelaskan bahwa pemilihan warna merah dan hitam pada kasur bukan tanpa alasan. Warna merah melambangkan keberanian, sedangkan hitam melambangkan kelanggengan. Kombinasi kedua warna ini menjadi simbol harapan agar setiap keluarga selalu berani menghadapi tantangan dan senantiasa langgeng dalam membina rumah tangga. Kasur bagi masyarakat Osing bukan hanya sekadar alas tidur, tetapi juga simbol penting dalam kehidupan berkeluarga.
Ketua Adat Kemiren, Suhaimi, menambahkan bahwa kasur adalah benda yang paling dekat dengan manusia, sehingga kebersihannya harus dijaga baik secara fisik maupun spiritual. Proses penjemuran kasur dilakukan sejak matahari terbit hingga menjelang tengah hari. Selama proses ini, warga membaca doa dan memercikkan air bunga di halaman rumah, dengan harapan agar terhindar dari bencana dan penyakit serta mendapatkan berkah dari Tuhan Yang Maha Esa. Ada kepercayaan bahwa khasiat kasur akan berkurang jika dibiarkan terjemur hingga sore hari, apalagi sampai malam.
Selain warna, ketebalan kasur juga memiliki makna tersendiri. Kasur yang lebih tebal menandakan status sosial ekonomi pemiliknya. Tradisi memberikan kasur baru kepada pasangan yang menikah oleh orang tua juga menjadi bagian penting dari Mepe Kasur, mempererat ikatan keluarga dan mewariskan nilai-nilai luhur dari generasi ke generasi. Pada malam hari, setelah prosesi penjemuran kasur selesai, puncak acara dilanjutkan dengan ritual Tumpeng Sewu. Warga beramai-ramai mengeluarkan tumpeng khas Osing, yaitu pecel pitik yang disajikan dengan parutan kelapa. Suasana semakin khidmat dengan dinyalakannya obor di depan rumah-rumah warga, menciptakan suasana tradisional yang penuh kebersamaan.
Tradisi Mepe Kasur bagi masyarakat Osing bukan hanya sekadar kegiatan seremonial, tetapi juga cerminan dari nilai-nilai kehidupan yang mereka junjung tinggi. Tradisi ini menjadi pengingat untuk selalu menjaga kebersihan lahir dan batin, mempererat tali silaturahmi antarwarga, serta memohon perlindungan dan keberkahan dari Tuhan Yang Maha Esa.