Eri Cahyadi Pilih Asrama untuk Pembinaan Remaja Surabaya, Tinggalkan Metode Barak Militer
Pemerintah Kota Surabaya kini mengalihkan fokus pembinaan remaja bermasalah dari program barak militer ke model asrama yang lebih komprehensif. Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, mengungkapkan alasan di balik perubahan strategi ini. Pengalaman menunjukkan bahwa efek positif yang didapatkan remaja selama mengikuti program barak militer, yang bekerja sama dengan TNI/Polri, tidak bertahan lama.
Evaluasi Program Barak Militer
Program barak militer, yang sebelumnya dikenal sebagai Sekolah Kebangsaan di Lanudal Juanda, bertujuan untuk mendisiplinkan remaja yang terlibat dalam kenakalan, seperti tawuran. Eri Cahyadi menjelaskan bahwa pada tahun 2022, Pemkot Surabaya bekerja sama dengan Angkatan Laut untuk memberikan pembinaan intensif selama 10 hari. Hasilnya cukup menggembirakan, banyak orang tua melaporkan perubahan positif pada perilaku anak-anak mereka, seperti meningkatnya sopan santun dan kedisiplinan.
Namun, euforia tersebut tidak berlangsung lama. Setelah beberapa bulan, banyak remaja kembali terjerumus dalam perilaku negatif dan kembali berurusan dengan aparat keamanan. Hal ini mendorong Eri Cahyadi untuk melakukan evaluasi mendalam terhadap efektivitas program barak militer. Ia menyimpulkan bahwa masalah utama yang dihadapi remaja bukan hanya kurangnya disiplin, tetapi juga kurangnya perhatian dan komunikasi dari orang tua.
"Ternyata setelah dari sana (Sekolah Kebangsaan), anak-anak itu berubah. Tapi setelah tiga bulan, kecekel maneh (ditangkap lagi)," ungkap Eri.
Eri menyadari bahwa solusi jangka panjang membutuhkan pendekatan yang lebih holistik, yang melibatkan pemenuhan hak-hak anak dan membangun komunikasi yang baik antara anak dan orang tua. Ia menyoroti pentingnya peran orang tua dalam memberikan kasih sayang, perhatian, dan tanggung jawab kepada anak-anak mereka.
Program Asrama: Kampung Anak Negeri dan Bibit Unggul
Merespons kebutuhan tersebut, Eri Cahyadi memperkenalkan dua program baru berbasis asrama, yaitu Kampung Anak Negeri (Kanri) dan program Bibit Unggul. Program-program ini dirancang untuk memberikan pembinaan yang lebih mendalam dan berkelanjutan kepada remaja bermasalah. Pendekatan asrama memungkinkan para remaja untuk mendapatkan lingkungan yang terstruktur, dukungan sosial, dan pendampingan yang intensif.
Kedua program ini tetap mengedepankan disiplin, namun dengan penekanan pada pemenuhan hak-hak anak, pengembangan potensi diri, dan peningkatan kualitas interaksi dengan keluarga. Diharapkan, melalui program-program ini, remaja Surabaya dapat tumbuh menjadi individu yang bertanggung jawab, berkarakter, dan mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.
Program asrama ini diharapkan menjadi solusi jangka panjang yang mengatasi akar permasalahan kenakalan remaja. Dengan fokus pada penguatan keluarga dan pemenuhan hak anak, Eri Cahyadi berharap dapat menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan dan perkembangan remaja Surabaya.