PBB Ungkap Dampak Finansial Bencana Alam Global 10 Kali Lebih Besar dari Estimasi Awal

Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) baru-baru ini mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan terkait dampak finansial dari bencana alam di seluruh dunia. Estimasi biaya kerugian yang selama ini digunakan ternyata jauh lebih rendah dari angka sebenarnya. Menurut laporan terbaru, kerugian riil akibat bencana alam global mencapai 10 kali lipat dari perkiraan sebelumnya.

Dampak finansial yang sangat besar ini tidak hanya sebatas kerusakan infrastruktur dan kerugian materi. Lebih dari itu, bencana alam memberikan pukulan berat terhadap berbagai sektor penting dalam kehidupan masyarakat, termasuk:

  • Kesehatan: Bencana alam seringkali menyebabkan peningkatan kebutuhan layanan kesehatan, baik untuk korban luka-luka maupun untuk mengatasi penyebaran penyakit.
  • Perumahan: Banyak rumah dan tempat tinggal hancur akibat bencana, sehingga menimbulkan masalah pengungsian dan kebutuhan akan tempat tinggal sementara atau permanen.
  • Pendidikan: Fasilitas pendidikan seperti sekolah dan universitas dapat rusak atau hancur, mengganggu proses belajar mengajar dan menghambat perkembangan generasi muda.
  • Lapangan Kerja: Bencana alam dapat menghancurkan bisnis dan industri, menyebabkan hilangnya lapangan kerja dan meningkatkan angka pengangguran.

Laporan ini dirilis oleh UNDRR, sebuah badan PBB yang fokus pada pengurangan risiko bencana. Berdasarkan data yang dikumpulkan dan dianalisis, UNDRR menemukan bahwa perkiraan dampak ekonomi global akibat bencana alam selama ini hanya berkisar 200 miliar dolar AS. Namun, angka ini hanyalah sebagian kecil dari total biaya sebenarnya, yang mendekati 2,3 triliun dolar AS.

Jenty Kirsch-Wood, kepala analisis risiko global UNDRR, menekankan bahwa dunia selama ini meremehkan dan kurang akurat dalam mengukur dampak bencana. Hal ini dapat menghambat upaya global untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs). Biaya yang timbul akibat cuaca ekstrem tidak hanya berupa kerusakan infrastruktur, tetapi juga hilangnya potensi di bidang kesehatan, pendidikan, dan kesempatan kerja.

Sebagai contoh, seseorang yang lahir pada tahun 1990 memiliki peluang 63% untuk mengalami banjir besar sekali dalam seumur hidupnya. Namun, bagi anak yang lahir pada tahun 2025, kemungkinan tersebut meningkat menjadi 86%. Hal ini menunjukkan bahwa risiko bencana semakin meningkat seiring dengan perubahan iklim.

Selain itu, bencana alam yang semakin sering dan intens mengganggu sektor-sektor penting, memperburuk kondisi keuangan negara, dan memperlambat proses pemulihan. Negara-negara yang sudah rentan menjadi semakin terpuruk akibat dampak bencana ini.

Menurut data UNDRR, kerugian finansial akibat bencana telah berlipat ganda dalam dua dekade terakhir. Laporan tersebut juga mengungkapkan bahwa kelompok masyarakat yang rentan paling merasakan dampak buruk dari bencana. Antara tahun 2014 dan 2023, hampir 240 juta orang terpaksa mengungsi akibat bencana di dalam negeri.

Beberapa negara melaporkan jumlah pengungsi yang sangat tinggi, seperti:

  • China dan Filipina: Masing-masing lebih dari 40 juta orang mengungsi.
  • India, Bangladesh, dan Pakistan: Masing-masing antara 10 hingga 30 juta orang mengungsi.

Namun, UNDRR juga menekankan bahwa ada solusi dan strategi yang dapat diterapkan untuk mengurangi dampak finansial kerugian akibat bencana, terutama yang terkait dengan perubahan iklim. Penggunaan infrastruktur pelindung banjir dan sistem peringatan dini yang efektif dapat membantu negara-negara yang paling terdampak untuk menekan biaya kerugian.

Kamal Kishore, kepala UNDRR, menyatakan bahwa peningkatan investasi dalam pengurangan risiko dan ketahanan dapat membalikkan tren kerugian akibat bencana yang terus meningkat. Ia memberikan contoh bagaimana masyarakat di tepi sungai dapat mengurangi kerusakan dan kerugian akibat banjir dengan memiliki akses ke perangkat ilmiah untuk perencanaan penggunaan lahan, sumber daya untuk membangun sistem perlindungan banjir, dan sistem peringatan dini.

Dengan demikian, investasi dalam pengurangan risiko bencana bukan hanya tentang melindungi aset dan infrastruktur, tetapi juga tentang menciptakan kondisi untuk kemakmuran dan pertumbuhan berkelanjutan di masyarakat.