Polemik Pernikahan Dini di Lombok: Budayawan Kecam Pernyataan TGB Soal Merariq
Polemik mengenai praktik pernikahan dini di Lombok semakin memanas setelah Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi memberikan pernyataan terkait tradisi Merariq. Pernyataan tersebut menuai kritik pedas dari berbagai kalangan, termasuk budayawan Lombok Timur, Ashwan Kailani.
Ashwan Kailani, yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Dewan Kesenian Lombok Timur, menilai bahwa TGB kurang memahami esensi dari adat Sasak yang telah diwariskan secara turun-temurun. Menurutnya, TGB seharusnya lebih bijaksana dalam mengkritisi permasalahan ini dan fokus pada penguatan lembaga adat. Ia menyayangkan komentar TGB yang dianggap menyudutkan tradisi Merariq, terutama setelah viralnya kasus pernikahan anak di bawah umur di Lombok Tengah.
"Seharusnya beliau (TGB) bijak untuk bagaimana berbicara soal menguatkan lembaga adat dalam konteks Merariq ini. Bukan kemudian dengan kasus viral ini sebutan Merariq dikatakannya tidak layak," tegas Ashwan.
Ashwan juga menyoroti pernyataan TGB yang menyamakan praktik pernikahan anak dengan tradisi Merariq. Ia berpendapat bahwa hal ini merupakan bentuk ketidaktelitian yang dapat merusak citra budaya Sasak.
"Saya selaku pemerhati budaya keberatan dengan pernyataannya itu. Cukuplah beliau jadi tokoh walaupun, tapi jangan membuat sebutan-sebutan baru yang merusak dan merubah tradisi yang sudah kita rawat," lanjutnya.
Menurut Ashwan, Merariq adalah prosesi sakral yang tidak bisa disamakan dengan tindakan membawa kabur anak gadis untuk dinikahi. Ia menekankan pentingnya lembaga adat dan tokoh masyarakat untuk lebih serius dalam menata kembali prosesi budaya, daripada menyalahkan tradisi itu sendiri.
"Bukan dengan adanya kasus viral kemudian kita menyalahkan tradisi dan adat istiadat kita. TGB coba kritisi Majelis Adat Sasak, bagaimana membuat adat istiadat budaya menjadi lebih baik, mereka seolah tutup mata," sindirnya.
Ashwan juga menambahkan bahwa para pemimpin dan tokoh masyarakat seharusnya lebih aktif dalam merawat dan melestarikan adat istiadat yang telah menjadi identitas daerah. Ia mengingatkan bahwa pernikahan anak adalah masalah yang kompleks dan tidak seharusnya merusak warisan budaya.
Sebelumnya, TGB melalui akun Instagram pribadinya, menyoroti praktik pernikahan dini yang menurutnya seringkali berlindung di balik tradisi Merariq. Ia berpendapat bahwa pernikahan anak di bawah umur bertentangan dengan syariat Islam dan hukum negara, serta lebih banyak membawa mudarat daripada maslahat.
TGB menjelaskan bahwa dalam budaya Sasak, terdapat dua jalur menuju pernikahan: Belakok (meminang secara baik-baik) dan Melaik atau Merariq. Ia menyoroti bahwa jalur Merariq sering disalahgunakan dan menjadi celah bagi praktik pernikahan anak, yang berdampak negatif bagi anak-anak perempuan.
Berikut adalah poin-poin yang menjadi sorotan dalam polemik ini:
- Kritik Budayawan: Ashwan Kailani mengkritik pernyataan TGB yang dianggap menyudutkan tradisi Merariq.
- Kurangnya Pemahaman: Ashwan menilai TGB kurang memahami esensi dari adat Sasak.
- Penyamaan yang Keliru: Ashwan menyoroti pernyataan TGB yang menyamakan praktik pernikahan anak dengan tradisi Merariq.
- Penguatan Lembaga Adat: Ashwan menekankan pentingnya penguatan lembaga adat dalam menata kembali prosesi budaya.
- Sorotan TGB: TGB menyoroti praktik pernikahan dini yang berlindung di balik tradisi Merariq.
- Dua Jalur Pernikahan: TGB menjelaskan dua jalur pernikahan dalam budaya Sasak: Belakok dan Merariq.
- Penyalahgunaan Merariq: TGB menyoroti penyalahgunaan jalur Merariq yang menjadi celah bagi praktik pernikahan anak.