Ratusan Babi di Manggarai Timur Meregang Nyawa Akibat Serangan ASF
Wabah African Swine Fever (ASF) menerjang Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, menyebabkan kerugian signifikan bagi peternak setempat. Data dari Dinas Peternakan Kabupaten Manggarai Timur menunjukkan bahwa sedikitnya 468 ekor babi dilaporkan mati akibat virus mematikan tersebut.
Sekretaris Dinas Peternakan Kabupaten Manggarai Timur, Ima Raydais, menyampaikan bahwa kasus kematian babi akibat ASF ini tersebar di tujuh kecamatan. Wilayah yang paling terdampak adalah Kota Komba Utara dengan 147 kasus kematian, disusul Elar (74 kasus), Rana Mese (63 kasus), Kota Komba (120 kasus), Borong (39 kasus), Congkar (15 kasus), dan Elar Selatan (10 kasus).
Menyikapi situasi darurat ini, Dinas Peternakan Kabupaten Manggarai Timur telah mengambil langkah-langkah strategis untuk mengendalikan penyebaran ASF. Salah satu upaya krusial adalah pengambilan sampel darah dari babi yang terinfeksi untuk memastikan diagnosis penyakit secara akurat. Hasil pengujian laboratorium mengkonfirmasi bahwa sampel tersebut positif ASF.
Selain itu, Dinas Peternakan aktif melakukan sosialisasi kepada masyarakat peternak mengenai ASF, termasuk gejala klinis, cara penularan, dan langkah-langkah pencegahan yang efektif. Edukasi ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran peternak dan mendorong penerapan praktik biosekuriti yang ketat di lingkungan peternakan mereka.
Wakil Bupati Manggarai Timur, Tarsisius Syukur, menyatakan keprihatinannya atas tingginya angka kematian babi akibat ASF. Ia mengimbau seluruh peternak untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit ini, mengingat penularannya yang cepat dan dampak fatal yang dapat ditimbulkannya.
Pemerintah Daerah Manggarai Timur juga memberikan rekomendasi kepada para peternak babi untuk menghindari penggunaan pakan yang tidak jelas asal-usulnya, terutama limbah daging babi. Menjaga kebersihan kandang dan lingkungan peternakan secara rutin, termasuk sanitasi alat dan perlengkapan yang digunakan, serta memantau kondisi kesehatan babi secara rutin dan segera melaporkan jika ada tanda-tanda penyakit seperti demam tinggi, kehilangan nafsu makan, perdarahan internal, atau kematian mendadak.
Berikut adalah langkah-langkah pencegahan yang disarankan oleh pemerintah daerah kepada peternak:
- Hindari penggunaan bahan pakan yang tidak jelas asal-usulnya, termasuk limbah daging babi.
- Jaga kebersihan kandang dan lingkungan peternakan secara rutin, termasuk sanitasi alat dan perlengkapan yang digunakan.
- Pantau kondisi kesehatan babi secara rutin dan segera laporkan jika ada tanda-tanda penyakit seperti demam tinggi, kehilangan nafsu makan, perdarahan internal, atau kematian mendadak.
- Tidak memindahkan babi antarwilayah tanpa adanya pemeriksaan kesehatan dari dokter hewan yang berwenang.
- Laporkan kejadian kematian mendadak pada babi kepada Dinas Peternakan untuk tindakan lebih lanjut.
- Tidak menyembelih dan mengedarkan daging yang berasal dari babi sakit.
- Kubur dan bakar bangkai ternak babi yang mati.
Selain itu, Wakil Bupati juga menginstruksikan para camat dan lurah untuk berperan aktif dalam mengawasi lalu lintas ternak babi di wilayah masing-masing, termasuk melakukan pemeriksaan fisik dan dokumen kesehatan hewan. Mereka juga diminta untuk memonitor dan mengawasi kegiatan peternakan babi, memastikan peternak mengikuti prosedur pencegahan yang berlaku, serta mendata dan mengawasi aktivitas usaha pemotongan dan penjualan daging babi.
Para camat dan lurah juga diharapkan dapat memberikan penyuluhan kepada masyarakat terkait pentingnya kewaspadaan terhadap penyakit ASF dan langkah-langkah yang perlu diambil, serta berkoordinasi dengan Dinas Peternakan untuk mendeteksi potensi risiko penyakit ASF di tingkat desa dan memberikan informasi terkini kepada peternak.