Banjir Bekasi Sebabkan Warga Kelelahan Bersihkan Rumah Usai Bekerja
Banjir Bekasi Timbulkan Beban Tambahan bagi Pekerja
Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Bekasi, Jawa Barat, Selasa (4/3/2025), tak hanya mengganggu aktivitas warga, tetapi juga menimbulkan beban tambahan bagi para pekerja yang harus membersihkan rumah usai beraktivitas seharian. Kondisi ini menimbulkan keluhan dari beberapa warga yang terpaksa meluangkan waktu dan tenaga untuk membersihkan rumah yang terdampak banjir setelah pulang kerja. Kejadian ini menyoroti dampak luas bencana alam, tak hanya pada infrastruktur, tetapi juga pada kesejahteraan dan keseimbangan hidup para pekerja.
Salah seorang warga Jatiasih, Bekasi, Olivia (29), menceritakan pengalamannya saat ditemui di Stasiun Manggarai, Jakarta Selatan. Ia mengungkapkan rasa lelahnya setelah seharian bekerja di Kuningan dan harus langsung berjibaku membersihkan rumahnya yang terendam banjir. Meskipun genangan air tidak sampai masuk ke dalam rumah, namun halaman rumah yang tergenang tetap memerlukan pembersihan. "Aku kerjanya di Kuningan. Mau balik, tapi kata orang rumah tadi airnya masih ada, udah nggak terlalu tinggi tapi capek, males banget beberesnya. Udah balik kerja pengennya istirahat, ini harus bersih-bersih rumah karena kebanjiran," tuturnya. Beruntung, Olivia masih bisa berangkat kerja berkat bantuan orang tua dan adiknya yang menjaga dan membersihkan rumah selama ia bekerja.
Senada dengan Olivia, Tata (28), warga Bekasi lainnya, juga mengeluhkan kesulitan yang dialaminya akibat banjir. Ia menceritakan bahwa pagi harinya kesulitan mencari jalan menuju kantor karena banyak ruas jalan yang terendam dan mengakibatkan kemacetan. "Rumahku banjirnya nggak yang terlalu parah, nggak yang tinggi meteran gitu yang harus dievakuasi. Tapi kalau dibanding sebelumnya, yang pernah aku alami ya hitungannya cukup parah juga. Tadi susah juga cari jalan yang nggak macet pas mau berangkat kerja, karena mayoritas macet, kerendam karena banjir itu jadinya macet," jelasnya. Kepayahan Tata bertambah karena setelah pulang kerja, ia masih harus membersihkan rumah yang terdampak banjir dan masih mengalami pemadaman listrik. "Dari tadi aku chat sama orang rumah agak susah, agak susah sinyal di sana karena masih mati lampu karena banjir ini. Malesnya tuh sekarang udah desak-desakan di kereta, terus nyampai rumah mesti beresin barang yang abis kerendam, mesti bersih-bersih lah, belum lagi kalau di jalanya masih macet banget nanti," tambahnya.
Pengalaman Olivia dan Tata menggambarkan dampak negatif banjir yang meluas dan tak hanya terfokus pada kerusakan fisik. Mereka harus menanggung beban ganda: kelelahan fisik akibat bekerja seharian dan ditambah dengan pekerjaan rumah tangga ekstra akibat bencana alam. Situasi ini menjadi sorotan penting mengenai perlunya perhatian lebih terhadap dampak sosial ekonomi dari bencana, terutama bagi para pekerja yang rentan terhadap dampak seperti ini. Perencanaan mitigasi bencana perlu mempertimbangkan aspek kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh, termasuk kesiapsiagaan dan dukungan bagi para pekerja yang terdampak.
- Kondisi rumah Olivia terendam banjir, namun hanya di halaman rumah.
- Tata mengalami kesulitan berangkat kerja karena banjir yang menyebabkan kemacetan.
- Keduanya mengeluhkan kelelahan fisik setelah bekerja dan harus membersihkan rumah.
- Rumah Tata mengalami pemadaman listrik akibat banjir.
- Banjir menyebabkan kesulitan komunikasi karena gangguan sinyal.