Polusi Asap Batu Bara Resahkan Warga Rancaekek: Upaya Pengaduan Tak Membuahkan Hasil

Kabut asap pekat menyelimuti permukiman warga Rancaekek, Kabupaten Bandung, setiap malam, menimbulkan keresahan mendalam di kalangan masyarakat. Diduga kuat, asap tersebut berasal dari pembakaran batu bara di sebuah pabrik yang beroperasi di wilayah tersebut. Meskipun keluhan dan protes telah berulang kali disampaikan, warga merasa suara mereka tak digubris, seolah berhadapan dengan tembok tebal kepentingan ekonomi.

Selama kurang lebih tiga pekan terakhir, warga terpaksa menghirup udara yang tercemar, menyebabkan iritasi pada mata, kesulitan bernapas, dan berbagai masalah kesehatan lainnya. Dalam rekaman video yang beredar, terlihat jelas bagaimana warga berusaha melindungi diri dengan menutup wajah menggunakan kain, sebagai upaya menghindari paparan langsung asap yang menyesakkan.

Amud, seorang warga Kampung Kekencehan, Desa Cangkuang, mengungkapkan bahwa dampak polusi asap tidak hanya dirasakan di wilayah RW 12 yang menjadi sumbernya, tetapi juga meluas hingga RW 01 tempatnya tinggal. Istrinya mengalami batuk-batuk dan gatal-gatal akibat paparan asap, sementara keluarga yang memiliki bayi terpaksa mengurung anak mereka di dalam rumah demi melindungi kesehatan mereka.

"Asapnya itu parah sekali. Istri saya sampai batuk-batuk. Kalau malam, badan terasa gatal, mulut terasa pahit, dan mata perih," ujarnya dengan nada prihatin.

Warga menduga bahwa pabrik PT Budi Agung Sentosa menjadi sumber utama polusi asap ini. Ayi Kohar, seorang warga yang rumahnya hanya berjarak 10 meter dari pabrik, juga menyampaikan keluhan serupa. Selain asap, ia juga terganggu oleh suara bising yang berasal dari blower pabrik.

"Dulu, suara blower itu sangat bising dan mengarah langsung ke rumah saya," kenangnya. Setelah melalui mediasi dengan pihak kepolisian, corong blower sempat dipotong dan ditutup dengan plastik. Namun, solusi tersebut hanya bersifat sementara.

"Kami sudah protes berkali-kali, tapi sepertinya sulit melawan perusahaan besar," keluhnya.

Ayi menambahkan bahwa asap biasanya mulai turun pada malam hari, meninggalkan debu tebal yang menempel di berbagai permukaan rumah. Ia juga mengeluhkan proses audiensi yang dinilai tidak inklusif, di mana hanya pengurus lingkungan yang dilibatkan, sementara keluhan warga lainnya kurang diperhatikan.

"Dulu perusahaan bilangnya mau bangun gudang, tapi malah jadi pabrik. Jam operasionalnya juga molor sampai jam 11 malam, padahal janjinya cuma sampai jam 5 sore," ungkapnya dengan nada kecewa.

Inspeksi dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung juga pernah dilakukan, namun warga menduga bahwa pihak pabrik sengaja mematikan blower saat inspeksi berlangsung. Selain itu, kompensasi berupa air bersih yang diberikan oleh perusahaan dinilai tidak memadai karena kualitasnya yang buruk.

"Airnya itu keruh dan berlumpur, jadi cuma bisa dipakai buat cuci baju dan mandi saja," jelasnya.

Warga berharap agar pemerintah daerah dapat bertindak tegas dan memberikan solusi konkret terhadap masalah polusi asap ini, demi menjaga kesehatan dan kenyamanan masyarakat Rancaekek.