Pukulan Telak Bagi Pedagang: Penjualan Hewan Kurban di Malang Anjlok Tajam Jelang Idul Adha

Menjelang perayaan Idul Adha 1446 Hijriah yang akan datang, para pedagang hewan kurban di Kota Malang menghadapi tantangan yang signifikan. Penjualan hewan kurban tahun ini mengalami penurunan yang mencolok dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, membuat para pedagang khawatir akan kelangsungan bisnis mereka.

Kabul, seorang pedagang hewan kurban berpengalaman di kawasan Sawojajar, mengungkapkan kekecewaannya atas kondisi pasar saat ini. Biasanya, dalam dua minggu pertama menjelang Idul Adha, ia mampu menjual puluhan ekor kambing. Namun, tahun ini, penjualan kambingnya merosot tajam. "Biasanya, dalam dua minggu buka, sudah laku hampir 50 ekor kambing. Sekarang, cuma 11 ekor," ujarnya dengan nada prihatin.

Penurunan drastis juga dialami dalam penjualan sapi. Jika tahun lalu ia bisa menjual sekitar 20 ekor sapi menjelang hari raya, tahun ini ia hanya berhasil menjual 7 ekor. Pengalaman Kabul sebagai pedagang hewan kurban selama 20 tahun membuatnya sangat merasakan perbedaan yang signifikan ini.

Walaupun harga hewan kurban relatif stabil, dengan kambing dari berbagai jenis seperti peranakan etawa, cross boer, dan jawa randu dijual antara Rp 3.000.000 hingga Rp 6.000.000, dan sapi jenis limousin dan sumbawa berkisar antara Rp 21.000.000 hingga Rp 40.000.000, minat beli masyarakat tetap rendah. Kabul menduga bahwa faktor ekonomi menjadi penyebab utama penurunan ini. Momen Idul Adha yang berdekatan dengan awal tahun ajaran baru sekolah, di mana banyak keluarga harus mengeluarkan biaya besar untuk pendaftaran dan perlengkapan sekolah, membuat prioritas pengeluaran mereka berubah.

"Banyak pelanggan yang bilang libur dulu (berkurban). Mungkin karena bersamaan dengan keperluan anak sekolah. Dua hari terakhir ini tidak ada satupun yang laku," jelasnya.

Para pedagang hewan kurban seperti Kabul tetap berupaya memberikan yang terbaik kepada para pelanggan mereka, dengan memastikan kesehatan hewan-hewan yang dijual. Semua ternak yang didatangkan dari Wajak, Kabupaten Malang, telah mendapatkan perawatan yang baik, termasuk pemberian vitamin dan pemeriksaan kesehatan oleh dokter hewan. Kabul menekankan bahwa ia sangat memperhatikan kesehatan hewan-hewannya dan segera bertindak jika ada masalah.

"Alhamdulillah tidak ada yang kena LSD atau PMK. Kalau ada sapi yang tidak mau makan, saya langsung panggil dokter hewan pribadi, tidak menunggu dari dinas," tegasnya.

Di tengah situasi yang sulit ini, Kabul tetap berharap akan ada peningkatan penjualan menjelang hari raya. Jika hewan kurban tidak habis terjual, ia berencana untuk merawatnya lebih lanjut dan menjualnya sebagai hewan akikah. Ia tidak ingin menurunkan harga, karena hal itu akan merugikannya.

Senada dengan Kabul, Supadi, pedagang hewan kurban lainnya, juga merasakan dampak yang sama. Ia terpaksa mengurangi stok hewan dagangannya secara signifikan akibat kondisi pasar yang lesu. Jika tahun lalu ia menyediakan 56 ekor sapi, tahun ini ia hanya berani menyediakan 24 ekor. Begitu pula dengan kambing, dari 116 ekor tahun lalu, sekarang ia hanya menyiapkan 56 ekor.

Kondisi ini menjadi pukulan telak bagi para pedagang hewan kurban di Malang. Mereka berharap agar situasi pasar segera membaik dan penjualan dapat meningkat menjelang hari raya Idul Adha.