Kebijakan Pendidikan Jawa Barat: Perspektif Guru Besar UPI tentang Kasih Sayang dan Tanggung Jawab
Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof. Dr. Jutnika Nurihsan, memberikan tanggapannya terhadap serangkaian kebijakan pendidikan yang diterapkan di Jawa Barat. Kebijakan tersebut meliputi program pendidikan di barak militer, pemberlakuan jam malam bagi pelajar, dan perubahan jam masuk sekolah menjadi pukul 06.30 pagi. Menurutnya, tujuan utama dari kebijakan ini adalah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di Jawa Barat agar lebih disiplin dan berkualitas.
Prof. Jutnika secara prinsip mendukung upaya pemerintah dalam mengembangkan potensi siswa di Jawa Barat. Namun, ia menekankan bahwa implementasi kebijakan ini harus selaras dengan minat, bakat, dan kepribadian siswa. Selain itu, pendekatan yang digunakan harus didasari oleh kasih sayang dan tanggung jawab. Ia mengingatkan bahwa pendidikan yang efektif memerlukan sinergi antara berbagai pihak, termasuk keluarga, masyarakat, tokoh masyarakat, pemerintah daerah, dan pemerintah pusat. Koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah sangat penting mengingat pendidikan merupakan tanggung jawab bersama dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Lebih lanjut, Prof. Jutnika menyoroti pentingnya mempertimbangkan fitrah anak dalam setiap kebijakan pendidikan. Anak-anak membutuhkan lingkungan yang penuh kasih sayang, bimbingan, dan tanggung jawab agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Program seperti barak militer, jam malam, dan jam masuk sekolah pagi harus dievaluasi secara cermat untuk memastikan bahwa tidak bertentangan dengan kebutuhan dasar anak. Keterlibatan anak dalam proses pendidikan juga dianggap krusial, dan pendekatan yang digunakan harus holistik, tidak hanya berfokus pada aspek behavioristik tetapi juga memperhatikan aspek humanistik, kognitif, dan emotif.
Prof. Jutnika juga menekankan pentingnya komunikasi yang efektif antara pemerintah, masyarakat, dan orang tua terkait kebijakan pendidikan. Pendidikan anak adalah tanggung jawab bersama yang tidak dapat dipikul oleh satu pihak saja. Oleh karena itu, setiap kebijakan perlu dikaji secara mendalam, baik dari segi teknis maupun psikologis. Dalam penyelenggaraan pendidikan, peran guru secara menyeluruh, termasuk guru mata pelajaran, guru bimbingan dan konseling (BK), guru olahraga, dan guru kesenian, sangatlah penting untuk pembinaan anak yang berkesinambungan.
Namun, Prof. Jutnika mengingatkan bahwa pendidikan yang paling utama dimulai dari rumah. Keluarga memiliki peran sentral dalam membentuk karakter dan nilai-nilai anak. Oleh karena itu, kerja sama antara keluarga, pemerintah, dan masyarakat sangat diperlukan untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang kondusif bagi perkembangan anak secara menyeluruh.
Secara rinci berikut adalah beberapa hal penting yang perlu dipertimbangkan:
- Koordinasi: Pemerintah pusat dan daerah harus berkoordinasi untuk memastikan kebijakan pendidikan selaras dan efektif.
- Fitrah Anak: Kebijakan harus mempertimbangkan kebutuhan dasar anak akan kasih sayang, bimbingan, dan tanggung jawab.
- Keterlibatan: Anak-anak harus dilibatkan dalam proses pendidikan dengan cara yang positif dan konstruktif.
- Pendekatan Holistik: Pendidikan harus memperhatikan aspek behavioristik, humanistik, kognitif, dan emotif anak.
- Komunikasi: Pemerintah, masyarakat, dan orang tua harus berkomunikasi secara efektif tentang kebijakan pendidikan.
- Tanggung Jawab Bersama: Pendidikan anak adalah tanggung jawab bersama yang tidak dapat dipikul oleh satu pihak saja.
- Peran Guru: Guru mata pelajaran, guru BK, guru olahraga, dan guru kesenian memiliki peran penting dalam pembinaan anak.
- Pendidikan di Rumah: Pendidikan yang paling utama dimulai dari rumah, dengan keluarga sebagai pendidik pertama dan utama.
Dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut, diharapkan kebijakan pendidikan di Jawa Barat dapat memberikan dampak positif bagi perkembangan anak dan peningkatan kualitas SDM di masa depan.