Kota Kln Lumpuh: Evakuasi Massal Akibat Ancaman Bom Sisa Perang Dunia II

Kota Kln, Jerman, baru-baru ini mengalami gangguan besar ketika tiga bom sisa Perang Dunia II ditemukan di lokasi konstruksi dekat Jembatan Deutz. Penemuan ini memicu evakuasi yang berdampak pada puluhan ribu warga, bisnis, dan infrastruktur penting.

Insiden tersebut memaksa penundaan momen sakral bagi lima belas pasangan yang seharusnya melangsungkan pernikahan di balai kota bersejarah. Gedung tersebut berada dalam zona evakuasi, memaksa mereka untuk mencari lokasi alternatif untuk mengikat janji suci. Lebih dari 20.500 penduduk dalam radius satu kilometer persegi dievakuasi sebagai tindakan pencegahan. Rumah sakit dan panti jompo juga dievakuasi, dengan pasien dan lansia dipindahkan ke fasilitas lain. Hampir 60 hotel ditutup sementara, dan para tamu dipindahkan ke akomodasi lain.

Bom-bom tersebut, yang diyakini berasal dari Amerika Serikat, terdiri dari satu bom seberat 450 kilogram dan dua bom seberat 900 kilogram. Bom-bom ini dilengkapi dengan detonator tumbukan, sehingga terlalu berbahaya untuk dipindahkan. Akibatnya, para ahli harus menjinakkannya di tempat, sebuah proses yang kompleks dan berbahaya yang membutuhkan evakuasi skala besar.

Jerman memiliki sejarah panjang dalam menangani bom sisa dari Perang Dunia II. Tahun lalu, lebih dari 1.600 bom berhasil dijinakkan di negara bagian Nordrhein-Westfalen saja. Proyek konstruksi rutin seringkali mengungkap artileri yang belum meledak dari tahun 1930-an dan 1940-an, sehingga menyoroti bahaya yang terus-menerus mengintai di bawah permukaan.

Masalah ini tidak terbatas pada Jerman. Negara-negara lain di Eropa, seperti Prancis, Belgia, dan Polandia, juga bergulat dengan bom sisa dari Perang Dunia I dan II. Di luar Eropa, negara-negara seperti Vietnam, Laos, Kamboja, Suriah, Irak, Ukraina, dan Gaza terus menderita akibat dampak amunisi yang belum meledak dari konflik sebelumnya. Di Laos saja, diperkirakan 80 juta bom yang belum meledak dari kampanye pengeboman rahasia AS antara tahun 1964 dan 1973 masih ada.

Di Ukraina, invasi besar-besaran Rusia pada tahun 2022 telah menyebabkan sekitar seperempat wilayah negara itu terkontaminasi ranjau, bom kluster, dan alat peledak lainnya. Situasi tersebut telah menimbulkan konsekuensi kemanusiaan dan ekonomi yang parah, dengan ratusan warga sipil tewas dan lahan pertanian yang luas tidak dapat digunakan.

Biaya untuk menjinakkan bom sisa perang sangat besar. Di Jerman, negara-negara bagian menanggung sebagian besar biaya, dengan negara bagian Nordrhein-Westfalen menghabiskan 20 juta euro (sekitar Rp320 miliar) hanya pada tahun lalu. Teknik penjinakan bom telah berkembang secara signifikan selama bertahun-tahun, dari metode manual hingga alat pemotong air bertekanan tinggi modern yang dapat menonaktifkan detonator dari jarak jauh.

Para ahli memperkirakan bahwa puluhan ribu bahan peledak yang belum meledak, dengan berat total sekitar 100.000 ton, masih berada di Jerman. Semakin tua bom, semakin besar risiko korosi dan ledakan yang tidak terkendali.

Evakuasi di Kln berfungsi sebagai pengingat yang kuat akan warisan abadi perang dan bahaya terus-menerus yang ditimbulkan oleh amunisi yang belum meledak di seluruh dunia.