Privasi Warga Terusik, Desa Castle Combe Larang Penggunaan Drone oleh Turis

Castle Combe Terapkan Larangan Drone Akibat Pelanggaran Privasi

Desa Castle Combe yang terletak di wilayah Cotswolds, Inggris, mengambil langkah tegas dengan melarang penggunaan drone oleh para wisatawan. Keputusan ini diambil sebagai respons terhadap meningkatnya kekhawatiran warga terkait privasi mereka yang terganggu oleh aktivitas drone. Insiden yang memicu aturan ini adalah laporan seorang warga yang merasa diintip melalui drone saat berada di dalam rumahnya.

Menurut laporan media lokal, larangan ini ditandai dengan pemasangan rambu "zona bebas drone" di berbagai titik strategis di desa tersebut. Warga mengungkapkan bahwa suara bising yang dihasilkan oleh drone menjadi gangguan tersendiri. Drone-drone tersebut seringkali terbang rendah di atas jalanan desa dan bahkan memasuki pekarangan rumah warga, mengusik ketenangan dan privasi mereka.

Hilary Baker, seorang pensiunan polisi berusia 69 tahun, menceritakan pengalamannya kepada The Sunday Times. Ia merasa tidak nyaman ketika sebuah drone melayang hanya 20 meter di atasnya saat ia sedang menjemur pakaian di taman belakang rumahnya. Lebih parah lagi, ia mengungkapkan bahwa seorang tetangganya terkejut menemukan drone mengintip melalui jendela kamar mandi saat ia sedang berada di dalamnya. Kejadian ini semakin memperkuat kekhawatiran warga akan pelanggaran privasi yang dilakukan oleh para pengguna drone.

Tindakan Tegas Terhadap Pelanggar

Warga desa Castle Combe merasa bahwa beberapa wisatawan telah melampaui batas kesopanan dan etika. Dalam sebuah insiden, seorang operator drone bahkan harus berurusan dengan pihak kepolisian karena menolak untuk mendaratkan dronenya. Ia juga dilaporkan mengeluarkan kata-kata kasar kepada warga yang memintanya untuk menghormati privasi lingkungan sekitar. Turis tersebut diduga merekam anak-anak yang sedang bermain di taman belakang rumah warga, menerbangkan drone secara sembarangan di jalan utama, dan mengarahkan kamera ke jendela-jendela rumah penduduk.

Sebelum maraknya penggunaan drone, warga Castle Combe sebenarnya sudah seringkali merasa terganggu oleh perilaku wisatawan yang kurang menghormati privasi mereka. Papan peringatan yang melarang memetik bunga dan memasuki gang-gang sempit di sekitar rumah warga telah lama dipasang sebagai upaya untuk menjaga ketertiban dan privasi. Namun, dengan semakin banyaknya wisatawan yang menggunakan drone untuk membuat konten media sosial, masalah privasi ini semakin menjadi perhatian utama.

"Sejak pandemi Covid-19, semakin banyak orang yang datang ke sini dan membawa drone untuk membuat konten media sosial," ujar Baker. Ia menambahkan bahwa konten-konten yang menampilkan keindahan desa Castle Combe justru menjadi daya tarik bagi wisatawan lain untuk berkunjung, sehingga meningkatkan jumlah kunjungan dan potensi gangguan privasi.

Dampak Media Sosial dan Aturan Baru

Desa Castle Combe, yang hanya dihuni oleh beberapa ratus orang, harus menampung ribuan wisatawan setiap minggunya. Ketenaran desa ini di media sosial, terutama Instagram, menarik perhatian wisatawan dari berbagai negara. Lydia Chia dan Deborah Chia, dua wisatawan asal Singapura, mengaku tertarik datang ke Castle Combe setelah melihat foto-foto desa tersebut di Instagram. Mereka memilih destinasi wisata berdasarkan estetika dan potensi konten yang bisa diunggah ke media sosial.

Ketua Dewan Paroki Castle Combe, Fred Winup, mengungkapkan bahwa lebih dari separuh pengunjung mengetahui desa ini dari internet, berdasarkan survei yang dilakukan pada tahun sebelumnya. Dengan diberlakukannya larangan penggunaan drone, para pilot drone kini diwajibkan untuk menjaga drone tetap dalam jangkauan pandangan, tidak menerbangkannya di dekat keramaian atau bangunan, dan menghormati privasi penduduk. Aturan ini diharapkan dapat mengurangi gangguan privasi yang dialami oleh warga Castle Combe dan menjaga ketertiban di desa tersebut.