Jurnalis Bandung Barat Pilih Besek Bambu untuk Distribusikan Daging Kurban, Kampanyekan Gaya Hidup Ramah Lingkungan

Lonjakan sampah plastik menjadi perhatian serius, terutama saat perayaan Idul Adha di wilayah Bandung Raya, Jawa Barat. Kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti yang sudah melebihi kapasitas semakin memperburuk situasi ini. Tumpukan kantong plastik bekas pembungkus daging kurban menambah volume sampah domestik, yang sudah menjadi masalah mengkhawatirkan, khususnya di Kabupaten Bandung Barat.

Merespon kondisi ini, sejumlah jurnalis yang tergabung dalam Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Bandung Barat mengambil inisiatif untuk melakukan aksi nyata. Mereka mengampanyekan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan dengan melaksanakan kurban di sekitar Padalarang, Bandung Barat. Daging kurban tersebut kemudian didistribusikan kepada keluarga yang membutuhkan menggunakan besek, yaitu wadah tradisional yang terbuat dari anyaman bambu.

Ketua PWI Kabupaten Bandung Barat, Hendra Hidayat, menyampaikan bahwa setiap tahun, perayaan Idul Adha selalu diiringi dengan peningkatan volume sampah plastik. Menurutnya, hal ini menjadi ironi karena di satu sisi masyarakat berbagi kebahagiaan, namun di sisi lain meninggalkan masalah lingkungan yang besar.

Penggunaan besek bambu bukan hanya sekadar alternatif, melainkan sebuah solusi yang mendesak. Membungkus daging kurban dengan besek bambu adalah ajakan untuk kembali menggunakan cara-cara tradisional yang ramah lingkungan. Besek bersifat biodegradable dan dapat terurai secara alami, berbeda dengan plastik yang membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai. Hal ini menjadi jawaban konkret atas permasalahan sampah yang terus berulang.

Hendra juga menekankan pentingnya peran pemerintah dalam menekan penggunaan plastik melalui regulasi dan menyediakan infrastruktur yang memadai untuk pengelolaan sampah. Perubahan harus dimulai dari diri sendiri dan dari lingkungan rumah tangga, namun pemerintah juga harus mendukung dengan kebijakan yang tepat.

Persoalan sampah di Jawa Barat, khususnya di Kabupaten Bandung Barat, bukanlah isu baru. TPA Sarimukti, yang menjadi tempat pembuangan sampah bagi beberapa wilayah di Bandung Raya, seringkali mengalami krisis lahan. Kebakaran dan kelebihan kapasitas menjadi masalah yang berulang, menunjukkan betapa mendesaknya penanganan sampah di wilayah tersebut.

Data menunjukkan bahwa sampah domestik, yang didominasi oleh plastik, terus meningkat. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat bahwa timbulan sampah nasional mencapai sekitar 35,9 juta ton per tahun pada tahun 2023, dengan komposisi plastik mencapai 18,3 persen. Angka ini berpotensi meningkat drastis pada momen-momen konsumsi tinggi seperti hari raya.

Di Bandung Barat sendiri, produksi sampah harian mencapai 200 ton, namun hanya 150 ton yang dapat diangkut ke TPA Sarimukti. Sebagian besar sampah tersebut didominasi oleh sampah plastik. Kondisi ini berdampak negatif dengan meninggalkan jejak karbon yang menyebabkan perubahan iklim.

Sampah plastik mencemari tanah, air, dan bahkan udara jika dibakar. Mikroplastik telah ditemukan di berbagai tempat dan masuk ke dalam rantai makanan. Hal ini bukan lagi sekadar masalah estetika, tetapi juga masalah kesehatan dan keberlanjutan hidup.

PWI Kabupaten Bandung Barat berharap bahwa aksi mereka dapat memicu perubahan yang lebih besar. Mereka mendorong pemerintah daerah untuk mengeluarkan kebijakan yang lebih progresif terkait pengelolaan sampah, terutama dalam mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. PWI Bandung Barat mengusulkan agar pemerintah daerah mengeluarkan peraturan yang melarang atau membatasi penggunaan plastik sekali pakai, terutama untuk acara-acara besar seperti hari raya atau kegiatan kemasyarakatan.

Selain itu, Hendra juga mengusulkan agar pemerintah aktif mengampanyekan gaya hidup minim sampah dengan membawa wadah yang bukan sekali pakai dan mengintensifkan edukasi masyarakat tentang bahaya plastik. Pemerintah juga diharapkan memberikan insentif bagi masyarakat yang beralih ke wadah ramah lingkungan dan menyediakan fasilitas pengelolaan sampah yang memadai.

Dengan langkah kecil ini, PWI Kabupaten Bandung Barat berharap kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan semakin meluas, menjadikan Idul Adha sebagai momen berbagi kebahagiaan tanpa meninggalkan kerusakan ekologis.