Megawati Soroti Perlakuan terhadap Soekarno Pasca-Lengser: Pengabaian Sejarah Bangsa?
Jakarta - Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, menyampaikan pernyataan keras terkait perlakuan yang diterima ayahnya, Soekarno, setelah tidak lagi menjabat sebagai presiden. Dalam pidato pembukaan pameran foto Guntur Soekarnoputra di Galeri Nasional Indonesia, Megawati mempertanyakan status hukum Soekarno pasca-lengser dari kekuasaan.
"Saya sendiri tidak tahu status bapak saya, tahanan kah? Tidak ada selembar kertas pun," ungkap Megawati dengan nada prihatin. Ia mengaku menyampaikan hal ini kepada rakyat agar mengetahui bagaimana seorang proklamator diperlakukan. Megawati menyoroti ironi bahwa Soekarno, sosok yang memproklamasikan kemerdekaan Indonesia bersama Mohammad Hatta, justru mengalami ketidakadilan di akhir hayatnya.
Megawati menganggap ketidakjelasan status hukum Soekarno sebagai bentuk pengabaian terhadap sejarah bangsa. Ia menekankan, keberanian Soekarno dan para pendiri bangsa lainnya dalam menyuarakan kemerdekaan adalah fondasi utama bagi kemerdekaan Indonesia saat ini.
"Kalau tidak ada yang berani berbicara proklamasi, tidak akan ada kalian ini. Masih jadi budak-budak," tegas Megawati dengan nada berapi-api.
Menurutnya, Soekarno dan para pendiri bangsa mempertaruhkan segalanya, termasuk nyawa, demi mewujudkan kemerdekaan. Oleh karena itu, ia mengajak seluruh masyarakat untuk tidak melupakan sejarah dan menghargai jasa para proklamator.
Megawati juga mengenang momen saat ia bertanya kepada Soekarno dan ibunya tentang rasa takut saat memperjuangkan kemerdekaan. Meskipun ada rasa takut, terutama terhadap Jepang, keberanian untuk merdeka tetap menjadi prioritas utama.
Pernyataan Megawati ini memicu diskusi tentang pentingnya menghormati sejarah dan menghargai para pahlawan bangsa. Perlakuan terhadap Soekarno di masa lalu menjadi cermin bagi generasi penerus untuk tidak melupakan jasa-jasa para pendiri bangsa.