Ukraina Menepis Tuduhan Rusia Terkait Penundaan Pertukaran Tahanan di Tengah Gempuran Intensif

Eskalasi konflik di Ukraina Timur terus memanas dengan serangan udara dan rudal yang dilancarkan oleh pasukan Rusia. Serangan terbaru ini menyasar kota Kharkiv dan wilayah Moskow, yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa dan luka-luka di kedua belah pihak. Di tengah situasi yang memburuk ini, Rusia menuding Ukraina telah sengaja menunda proses pertukaran tahanan yang sebelumnya telah disepakati dalam perundingan damai di Istanbul.

Tudingan ini segera dibantah oleh pejabat Ukraina, Andriy Kovalenko, yang menolak klaim Moskow dan menuduh Rusia melakukan taktik kotor untuk menggagalkan kesepakatan. Kovalenko menegaskan bahwa pernyataan Rusia tidak sesuai dengan fakta dan perjanjian sebelumnya mengenai pertukaran tahanan dan pemulangan jenazah. Ia mendesak Moskow untuk menghentikan permainan curang dan kembali pada upaya konstruktif untuk mencapai kesepakatan.

Serangan di Kharkiv pada akhir pekan lalu menewaskan tiga orang dan melukai puluhan lainnya. Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskiy, mengecam serangan tersebut sebagai tindakan pembunuhan brutal. Sementara itu, pihak Rusia mengklaim bahwa serangan pesawat tak berawak Ukraina di wilayah Moskow telah melukai dua orang.

Sebelumnya, pada perundingan damai di Istanbul, kedua belah pihak telah menyepakati pertukaran tahanan dan pemulangan jenazah 12.000 tentara yang tewas. Namun, ajudan Kremlin, Vladimir Medinsky, mengatakan bahwa Kyiv secara tiba-tiba menunda pertukaran tersebut tanpa batas waktu.

Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim bahwa pasukannya telah berhasil menghantam target militer di Ukraina menggunakan senjata jarak jauh berpresisi tinggi dan pesawat nirawak. Kota Kharkiv, yang terletak dekat perbatasan Rusia, telah menjadi sasaran penembakan Rusia selama lebih dari tiga tahun konflik berkepanjangan.