PKS Ajukan Usulan Tradisi Takbiran dan Peringatan Nuzulul Qur'an di Istana Kepada Presiden Prabowo

PKS Ajukan Usulan Tradisi Takbiran dan Peringatan Nuzulul Qur'an di Istana Kepada Presiden Prabowo

Anggota Komisi VIII DPR RI dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Hidayat Nur Wahid (HNW), mengusulkan revitalisasi tradisi perayaan keagamaan di lingkungan Istana Kepresidenan. Usulan tersebut disampaikan HNW kepada Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar dalam rapat Komisi VIII DPR RI di Jakarta pada Selasa, 4 Maret 2025. Usulan utama HNW adalah agar Presiden Prabowo Subianto melanjutkan tradisi menabuh beduk pada malam takbiran menjelang Idul Fitri 1446 H. HNW berargumen bahwa keterlibatan langsung Presiden dalam kegiatan keagamaan, seperti menabuh beduk di malam takbiran, akan menciptakan suasana yang lebih khidmat dan merajut kembali ikatan emosional antara pemimpin dan rakyat.

HNW menjelaskan, "Tradisi menabuh beduk di malam takbiran oleh Presiden, bahkan di Istana atau di Masjid Istiqlal, pernah menciptakan suasana yang sangat nyaman dan penuh makna bagi masyarakat dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri. Ini adalah sebuah sunah yang baik dan perlu dihidupkan kembali." Ia menekankan pentingnya kebersamaan dan persatuan dalam menyambut Idul Fitri, terlebih dengan kemungkinan Lebaran tahun ini akan jatuh pada tanggal yang sama, menghilangkan potensi perbedaan perayaan.

Selain tradisi menabuh beduk, HNW juga mengusulkan agar Istana Negara kembali menggelar peringatan Nuzulul Qur'an. Ia mencontohkan bahwa peringatan Nuzulul Qur'an telah menjadi tradisi sejak era Presiden Soekarno, sebagai bentuk penghormatan dan perayaan atas turunnya Al-Qur'an. HNW menyayangkan terhentinya tradisi tersebut dan berharap Presiden Prabowo dapat menghidupkannya kembali. "Peringatan hari-hari besar Islam di Istana Negara, termasuk Nuzulul Qur'an, akan menciptakan suasana positif dan memperkuat nilai-nilai keagamaan di tengah masyarakat," ujar HNW yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Majelis Syura PKS.

Wakil Ketua MPR RI ini berharap usulan ini akan dipertimbangkan oleh Presiden Prabowo. Menurutnya, kehadiran Presiden dalam kegiatan keagamaan tersebut akan memberikan dampak positif yang signifikan, memperkuat rasa kebersamaan dan keimanan, serta mempererat hubungan antara pemerintah dan masyarakat. HNW optimistis bahwa revitalisasi tradisi keagamaan di Istana akan diterima dengan baik oleh masyarakat dan dapat menjadi contoh positif bagi pemimpin di berbagai tingkatan.

Secara keseluruhan, usulan dari HNW ini berfokus pada upaya untuk memperkuat nilai-nilai keagamaan dan kebersamaan nasional melalui partisipasi aktif Presiden dalam kegiatan keagamaan yang bersejarah dan sarat makna. Ia berharap usulannya ini dapat dipertimbangkan dan diimplementasikan oleh pemerintah untuk menciptakan suasana Idul Fitri yang lebih khidmat dan penuh makna bagi seluruh rakyat Indonesia.