Penyalahgunaan Teknologi Deepfake Memicu Gelombang Penipuan Skala Besar

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang pesat, khususnya deepfake, kini menjadi ancaman serius. Deepfake, yang dulunya dianggap sebagai aplikasi hiburan semata, kini disalahgunakan untuk tindakan kriminal, termasuk penipuan dengan dampak finansial yang signifikan.

Niki Luhur, Founder dan Group CEO VIDA, menyoroti bahwa keamanan data pribadi seringkali terabaikan. Interaksi digital, seperti transaksi e-commerce, menyimpan pertukaran data pribadi yang berpotensi disalahgunakan. Dalam acara 'Peluncuran Whitepaper VIDA Deepfake Shield' di Jakarta, ia menekankan bahwa tantangan keamanan digital saat ini jauh berbeda dari situasi ideal, dengan serangan canggih berupa penipuan berbasis AI yang merugikan secara finansial dan merusak reputasi.

"Dulu, deepfake hanya dianggap sebagai tools lucu untuk mengubah penampilan. Namun sekarang, fungsinya telah bergeser. Identitas seseorang dapat diubah dan disalahgunakan, bahkan ada yang bisa meniru identitas orang lain," ujar Niki.

Contoh nyata penyalahgunaan deepfake adalah kasus yang menimpa sebuah perusahaan multinasional. Perusahaan tersebut mengalami kerugian sebesar 200 juta Dollar Hong Kong atau setara dengan 400 miliar Rupiah akibat penipuan deepfake. Kejadian bermula ketika seorang karyawan di kantor cabang Hong Kong menerima pesan yang diduga phishing dari seseorang yang mengaku sebagai CFO kantor pusat di Inggris.

Karyawan tersebut diundang ke sebuah konferensi video yang dihadiri oleh CFO dan sejumlah karyawan lain. Namun, belakangan terungkap bahwa rapat tersebut adalah palsu dan seluruh peserta rapat adalah penipu yang menggunakan teknologi deepfake. Karyawan tersebut menjadi satu-satunya orang asli dalam rapat tersebut.

Video deepfake yang digunakan dibuat dengan menggabungkan berbagai video yang tersedia untuk meniru wajah dan suara orang yang ditiru. Selama rapat, karyawan tersebut diperintahkan untuk melakukan transfer uang sebanyak 15 kali ke lima rekening bank di Hong Kong. Total kerugian mencapai 200 juta Dollar Hong Kong.

Chan, seorang ahli keamanan siber, menjelaskan bahwa para penipu menggunakan gambar dan suara yang sangat mirip dengan orang yang ditiru, sehingga sulit dibedakan. Kasus ini menjadi peringatan serius tentang potensi bahaya deepfake dalam melakukan penipuan dan pentingnya meningkatkan kewaspadaan serta keamanan digital.