Jejak Garuda di Bumi Pertiwi: Eksistensi Elang Jawa di Enam Taman Nasional
Elang Jawa (Nisaetus bartelsi), burung yang menginspirasi lambang negara Garuda Pancasila, adalah spesies endemik Pulau Jawa yang kini menjadi fokus perhatian konservasi. Keberadaannya di alam liar menjadi indikator penting kesehatan ekosistem dan keanekaragaman hayati. Meskipun menyandang status sebagai 'Garuda' dalam mitologi Indonesia, elang Jawa menghadapi tantangan serius akibat hilangnya habitat dan perburuan.
Habitat ideal elang Jawa adalah hutan primer dan sekunder di dataran rendah hingga tinggi. Mereka membutuhkan wilayah yang luas untuk berburu, beristirahat, dan berkembang biak. Keberadaan pohon-pohon tinggi dan heterogenitas vegetasi menjadi faktor penting dalam pemilihan habitat oleh elang Jawa, karena menyediakan sumber pakan dan tempat berlindung yang memadai. Sebagai predator puncak, elang Jawa memainkan peran krusial dalam menjaga keseimbangan populasi mangsanya, seperti bajing pohon, tupai, dan ayam hutan.
Survei dan penelitian menunjukkan bahwa elang Jawa masih dapat ditemukan di beberapa taman nasional di Pulau Jawa, meskipun dengan populasi yang relatif kecil. Berikut adalah tinjauan mengenai keberadaan elang Jawa di enam taman nasional:
- Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP): TNGGP merupakan salah satu habitat penting bagi elang Jawa. Sejak tahun 2015, tercatat 16 sarang aktif di seluruh kawasan TNGGP. Pada tahun 2023, ditemukan anak elang Jawa berusia 10 hari di Resort PTN Cibodas.
- Taman Nasional Alas Purwo (TNAP): Elang Jawa di TNAP cenderung memilih hutan dataran rendah dengan struktur pohon yang heterogen. Hutan dengan pohon seragam lebih sering digunakan sebagai tempat beristirahat. Lokasi sarang dipilih berdasarkan ketersediaan mangsa yang beragam dan melimpah.
- Taman Nasional Meru Betiri (TNMB): TNMB yang kaya akan keanekaragaman hayati menjadi rumah bagi elang Jawa. Petugas TNMB beberapa kali melaporkan perjumpaan dengan elang Jawa, dengan ciri khas jambul di kepala, bentang sayap 150 cm, dan panjang badan 70 cm. Bulu elang Jawa dewasa didominasi warna coklat.
- Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS): Pada tahun 2024, ditemukan anak elang Jawa berusia 2-3 minggu di Resort Pengelolaan Taman Nasional Wilayah (PTNW) Cimantaja. Anak elang Jawa tersebut dalam kondisi sehat. TNGHS merupakan habitat penting bagi elang Jawa, owa Jawa, dan macan tutul Jawa.
- Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS): Dua ekor elang Jawa betina hasil rehabilitasi, Araga dan Mirah, dilepasliarkan di TNBTS pada tahun 2021. Sebelumnya, kedua elang tersebut menjalani rehabilitasi selama 13 bulan. Pada tahun 2021, tercatat ada 35 ekor elang Jawa di kawasan TNBTS.
- Taman Nasional Gunung Merbabu: Populasi elang Jawa di TN Gunung Merbabu cenderung fluktuatif. Pada tahun 2023, tercatat dua kali perjumpaan dengan elang Jawa. Elang Jawa di kawasan ini memanfaatkan hutan sekunder dan area perbatasan dengan lahan pertanian sebagai areal jelajah. Mereka bersarang di pohon kesowo dan pinus, serta bertengger di pohon kesowo, akasia, bintami, dan pampung.
Keberadaan elang Jawa di taman-taman nasional ini menjadi harapan bagi kelestarian spesies ini. Namun, upaya konservasi yang lebih intensif diperlukan untuk melindungi habitat mereka, mengurangi perburuan, dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian elang Jawa sebagai bagian dari warisan alam Indonesia. Jumlah elang Jawa yang hanya berkisar antara 300-500 ekor di seluruh Jawa dan Bali menjadi pengingat akan ancaman kepunahan yang nyata jika tidak ada tindakan nyata yang diambil.