Perjuangan Mariahati Fania: Bocah 11 Tahun Jadi Tulang Punggung Keluarga di Manggarai Timur

Di pelosok Desa Rana Gapang, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, seorang gadis kecil bernama Mariahati Fania Triselni, yang baru berusia 11 tahun, memikul tanggung jawab yang teramat besar di pundaknya. Di usia yang seharusnya diisi dengan bermain dan belajar, Fania harus merawat kakek dan neneknya yang sakit seorang diri. Kisah pilunya ini menjadi potret buram kehidupan yang serba kekurangan di wilayah tersebut.

Di sebuah rumah sederhana berdinding bambu di Kampung Weong, Fania dengan telaten merawat Teresia Pia (99), neneknya yang renta dan tak mampu lagi berjalan, serta Petrus Masing (100), kakeknya yang mengalami gangguan penglihatan, pendengaran, pikun, dan kesulitan berjalan. Empat tahun sudah Fania menjalani peran sebagai ibu sekaligus cucu bagi kedua lansia tersebut. Ayahnya telah lama meninggal dunia, sementara ibunya tinggal terpisah bersama saudara-saudaranya, menambah berat beban hidup Fania.

Rutinitas harian Fania dimulai jauh sebelum matahari terbit. Ia bangun pagi-pagi buta untuk menyiapkan sarapan sederhana untuk kakek dan neneknya. Setelah itu, ia mencuci piring dan pakaian kotor mereka, baru kemudian bersiap-siap berangkat ke sekolah. Sepulang sekolah, tak ada waktu untuk bermain dengan teman-teman sebayanya. Fania langsung bergegas pulang, seringkali menyempatkan diri mencari sayuran di kebun untuk dijadikan bahan masakan.

Di rumah, Fania dengan sabar menyuapi kakek dan neneknya dengan nasi dan sayur seadanya. Keterbatasan ekonomi membuat mereka jarang sekali bisa menikmati lauk-pauk. Meski demikian, Fania tak pernah mengeluh. Ia memiliki cita-cita mulia untuk menjadi seorang guru, agar kelak bisa mengobati kakek dan neneknya agar kembali sehat.

Nenek Fania, Teresia Pia, memiliki lima orang anak yang sudah berkeluarga dan tinggal terpisah. Meski sesekali menjenguk, bantuan yang mereka berikan seringkali tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kondisi ekonomi yang serba pas-pasan membuat mereka kesulitan untuk memberikan bantuan yang berarti.

Bantuan dari tetangga pun datangnya tidak seberapa. Untuk pengobatan, Teresia dan Petrus hanya bisa berharap pada uluran tangan dari pemerintah setempat. Rumah reyot berdinding bambu yang mereka tempati semakin menambah beban hidup keluarga kecil ini. Kisah pilu Fania akhirnya sampai ke telinga dua anggota Polres Manggarai Timur, Bripka Hery Tena dari Dokkes dan Briptu Lalu Sukiman, Kapospol Elar. Tergerak hatinya, mereka langsung mengunjungi Fania di Kampung Weong dan memberikan bantuan.

Tak hanya itu, kedua polisi tersebut juga mengunjungi Mama Anastasia Lija, seorang warga Kampung Lando yang menderita sakit gondok. Kunjungan ini merupakan wujud kepedulian Polres Manggarai Timur dan Polri terhadap masyarakat kecil yang membutuhkan bantuan. Kedua polisi tersebut berjanji untuk terus mengupayakan bantuan bagi masyarakat kecil di wilayah mereka, dengan menggandeng aparat desa dan BPD Rana Gapang. Kisah Fania adalah contoh nyata ketangguhan seorang anak di tengah keterbatasan. Dengan hati yang besar, ia menjalani hari-harinya demi merawat kakek dan neneknya yang tercinta, sambil terus berjuang untuk meraih cita-citanya menjadi seorang guru.