HIPMI Soroti Jumlah Kelas Menengah Indonesia yang Tertinggal: Pemerintah Diminta Berperan Aktif
Pertumbuhan Kelas Menengah di Indonesia Melambat, HIPMI Minta Pemerintah Beri Perhatian Khusus
Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) menyoroti lambatnya pertumbuhan kelas menengah di Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa persentase kelas menengah di Indonesia hanya mencapai 17% dari total populasi. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan negara-negara maju seperti China dan Amerika Serikat, di mana persentase kelas menengah mencapai 55% hingga 60%.
Ketua Umum BPP HIPMI, Akbar Himawan Buchari, mengungkapkan keprihatinannya atas kondisi ini. Menurutnya, peningkatan jumlah kelas menengah merupakan faktor penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan kewirausahaan di Indonesia. Ia juga menekankan pentingnya peningkatan rasio pengusaha muda di tanah air.
Dalam acara Peringatan Hari Kewirausahaan Nasional di Jakarta, Akbar menyerukan agar pemerintah mengambil langkah-langkah afirmasi untuk mendukung pertumbuhan kelas menengah. Ia menjelaskan bahwa selama ini, pemerintah lebih fokus pada pemberdayaan usaha kecil melalui program-program seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR). Padahal, kelas menengah juga membutuhkan dukungan agar dapat berkembang dan berkontribusi lebih besar terhadap perekonomian.
"Kita abai dengan teman-teman usaha kelas menengah agar bisa tumbuh, berkembang," ujarnya.
Akbar menambahkan bahwa pengembangan sektor kelas menengah dapat menjadi momentum penting bagi HIPMI dan pengusaha muda di seluruh Indonesia. Ia juga menyoroti pertumbuhan jumlah pengusaha di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Pada awal kepemimpinan Bahlil Lahadalia sebagai Ketua BPP HIPMI pada tahun 2015, rasio pengusaha hanya sekitar 1,6%. Angka ini meningkat menjadi 3,6% pada tahun 2019 dan mencapai 3,8% saat ini.
Penurunan Proporsi Kelas Menengah Menurut Data BPS
Data BPS menunjukkan bahwa proporsi kelas menengah di Indonesia mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Pada Oktober 2024, jumlah kelas menengah tercatat sebesar 17,13% dari total populasi, atau sekitar 46,85 juta jiwa. Angka ini menurun dibandingkan tahun 2019, di mana proporsi kelas menengah mencapai 21,45% atau 57,33 juta jiwa. Penurunan juga terjadi pada tahun 2021, menjadi 19,82% atau 53,83 juta penduduk.
Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad, menjelaskan bahwa penurunan ini mengindikasikan adanya pergeseran kelas menengah ke level yang lebih rendah, yaitu menuju kelas menengah rentan dan bahkan rentan miskin. Ia menyebutkan bahwa penurunan kelas ini bisa terjadi satu hingga dua level.
Dengan kondisi ini, HIPMI mendesak pemerintah untuk segera mengambil tindakan nyata dalam mendukung pertumbuhan kelas menengah. Langkah-langkah afirmasi yang tepat diharapkan dapat mendorong peningkatan jumlah kelas menengah dan memperkuat perekonomian Indonesia.