Laktosa Bukan Halangan: Membiasakan Diri Konsumsi Susu Bagi Penderita Intoleransi
Intoleransi laktosa seringkali menjadi penghalang bagi sebagian orang untuk menikmati manfaat susu. Namun, tahukah Anda bahwa kondisi ini sebenarnya dapat diatasi dengan pembiasaan diri? Seorang pakar dari Badan Gizi Nasional (BGN) menjelaskan bahwa intoleransi laktosa bukanlah penyakit, melainkan kondisi di mana tubuh kekurangan enzim laktase yang bertugas mencerna laktosa, gula alami yang terdapat dalam susu.
Dr. Epi Taufik, S.Pt., MVPH., M.Si, seorang Guru Besar dari Institut Pertanian Bogor (IPB) yang juga merupakan pakar susu BGN, mengungkapkan bahwa tubuh manusia sebenarnya dirancang untuk mengonsumsi susu sejak lahir. Sebagai mamalia, manusia secara alami mengonsumsi air susu ibu (ASI) yang kaya akan laktosa. ASI bahkan memiliki kadar laktosa yang lebih tinggi dibandingkan susu sapi.
Namun, seiring bertambahnya usia, produksi enzim laktase dalam tubuh cenderung menurun, terutama jika seseorang tidak terbiasa mengonsumsi produk susu. Hal inilah yang menyebabkan munculnya gejala intoleransi laktosa seperti kembung, diare, atau sakit perut setelah mengonsumsi susu.
Kabar baiknya, intoleransi laktosa bukanlah vonis permanen. Dr. Epi menjelaskan bahwa tubuh dapat dilatih untuk kembali memproduksi enzim laktase dengan mengonsumsi susu secara bertahap. Proses pembiasaan ini memungkinkan tubuh beradaptasi dan meningkatkan toleransi terhadap laktosa. Penting untuk diingat bahwa setiap individu memiliki tingkat toleransi laktosa yang berbeda-beda.
Ia juga menyoroti pentingnya membiasakan anak-anak mengonsumsi susu sejak dini. Salah satu contoh sukses adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyertakan susu sebagai bagian dari menu. Hasilnya, anak-anak yang terlibat dalam program tersebut tidak menunjukkan gejala intoleransi laktosa, bahkan cenderung menyukai susu dan meminta tambahan.
Dr. Epi menambahkan bahwa penderita intoleransi laktosa umumnya masih dapat mentoleransi susu dengan kadar laktosa tertentu. Batas aman yang direkomendasikan adalah di bawah 12 gram laktosa per konsumsi. Jika melebihi batas tersebut, barulah gejala intoleransi laktosa mungkin muncul.
Berikut adalah poin-poin penting yang perlu diperhatikan:
- Intoleransi laktosa bukanlah penyakit, melainkan kekurangan enzim laktase.
- Tubuh dapat dilatih untuk memproduksi enzim laktase dengan pembiasaan konsumsi susu.
- Setiap individu memiliki tingkat toleransi laktosa yang berbeda.
- Membiasakan anak-anak mengonsumsi susu sejak dini dapat mencegah intoleransi laktosa.
- Penderita intoleransi laktosa umumnya masih dapat mentoleransi susu dengan kadar laktosa tertentu.
Dengan pemahaman yang tepat dan pendekatan yang bertahap, intoleransi laktosa tidak perlu menjadi penghalang untuk menikmati manfaat susu bagi kesehatan.