Rekomendasi Asupan Susu Harian untuk Anak Sekolah dalam Program Gizi Nasional
Rekomendasi Asupan Susu Harian untuk Anak Sekolah dalam Program Gizi Nasional
Tim ahli dari Badan Gizi Nasional (BGN) memberikan rekomendasi terkait jumlah asupan susu yang ideal bagi anak-anak sekolah dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Rekomendasi ini disesuaikan dengan jenjang usia anak, mulai dari PAUD hingga SMA.
Dr. Epi Taufik, S.Pt., MVPH., M.Si, seorang pakar dari Institut Pertanian Bogor (IPB) yang tergabung dalam tim BGN, menjelaskan bahwa untuk siswa PAUD hingga SD, porsi susu yang dianjurkan adalah 115 mililiter (ml) per hari. Sementara itu, bagi siswa SMP hingga SMA, jumlah asupan susu yang direkomendasikan meningkat menjadi 125 ml per hari.
Program MBG sendiri menekankan penggunaan susu segar dalam negeri. Setidaknya 20 persen dari kandungan susu yang diberikan harus berasal dari susu segar lokal. Langkah ini bertujuan untuk mendukung peternak sapi perah rakyat dan mendorong produksi susu dalam negeri.
Distribusi Susu dalam Program MBG
Pendistribusian susu dalam program MBG akan menyasar tiga kelompok utama, yaitu:
- Balita non-PAUD
- Ibu hamil dan menyusui
- Anak sekolah dari jenjang TK hingga SMA
Untuk balita non-PAUD serta ibu hamil dan menyusui, jenis susu yang diberikan akan mengikuti regulasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) terkait formula lanjutan dan minuman khusus.
Sementara itu, siswa PAUD hingga SMA akan menerima dua jenis susu olahan, yaitu susu pasteurisasi dan susu Ultra High Temperature (UHT).
Perbedaan Susu Pasteurisasi dan UHT
Susu pasteurisasi dan UHT memiliki keunggulan masing-masing. Susu pasteurisasi diproses dengan pemanasan minimal sehingga kesegarannya lebih terjaga, tetapi membutuhkan penyimpanan dalam kondisi dingin karena lebih mudah rusak. Di sisi lain, susu UHT lebih praktis dalam hal logistik karena telah dikemas dan diolah secara massal oleh industri.
Dr. Epi Taufik juga menjelaskan mengenai perbedaan sumber pengadaan susu pasteurisasi dan UHT. Untuk susu pasteurisasi, pengadaan dapat dilakukan oleh koperasi atau UMKM yang mengolah susu sendiri dan mendistribusikannya ke sekolah-sekolah. Sementara itu, untuk susu UHT, peternak akan mengirimkan susu ke pabrik pengolahan.
BGN berkomitmen untuk terus melakukan sosialisasi kepada seluruh kepala Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) terkait pengadaan susu untuk program MBG. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa setiap SPPG memiliki fasilitas penyimpanan susu yang memadai.
Kepala SPPG memiliki tanggung jawab untuk melakukan pengadaan seluruh bahan baku, termasuk susu, sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan oleh BGN.
Tantangan dan Upaya Peningkatan Produksi Susu Dalam Negeri
Salah satu tantangan utama dalam pengadaan susu untuk program MBG adalah keterbatasan pasokan susu dalam negeri. Saat ini, Indonesia baru mampu memenuhi sekitar 20 persen dari kebutuhan susu nasional. Melalui program MBG, pemerintah berupaya untuk meningkatkan produksi susu dalam negeri dengan memberikan dukungan kepada peternak lokal dan memastikan bahwa dana pajak rakyat digunakan untuk membeli produk dalam negeri, bukan produk impor.