GAC Aion Optimalkan Produksi Kendaraan Listrik di Asia Tenggara dengan Strategi Pabrik Terintegrasi

Produsen kendaraan listrik (EV) asal Tiongkok, GAC Aion, tengah gencar memperkuat posisinya di pasar Asia Tenggara dengan mengandalkan dua fasilitas produksi yang berlokasi di Indonesia dan Thailand. Kedua pabrik ini tidak hanya bertujuan untuk memenuhi permintaan pasar domestik masing-masing, tetapi juga dirancang untuk saling melengkapi dalam strategi produksi dan ekspor.

Wei Haigang, Presiden GAC International, menjelaskan bahwa keputusan untuk membangun pabrik di Indonesia dan Thailand didasari oleh pertimbangan strategis untuk beradaptasi dengan regulasi lokal dan mengoptimalkan biaya produksi. Lebih dari itu, langkah ini juga membuka peluang ekspansi ekspor ke negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara.

"Strategi kami sangat sederhana. Kami mendirikan pabrik di Thailand karena adanya persyaratan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), begitu pula di Indonesia. Indonesia adalah pasar yang sangat besar, sehingga penggunaan komponen lokal menjadi kunci untuk mencapai daya saing yang optimal," ujar Wei di Purwakarta, Jawa Barat.

Sinergi Produksi untuk Pasar yang Beragam

GAC Aion menekankan bahwa kedua pabrik ini tidak akan saling berkompetisi, melainkan akan bersinergi untuk memenuhi kebutuhan pasar yang berbeda. Alokasi produksi akan didasarkan pada karakteristik dan permintaan pasar di masing-masing negara.

"Kedua pabrik akan menentukan produk mana yang paling sesuai untuk diproduksi di masing-masing lokasi. Keputusan ekspor juga akan mempertimbangkan model kendaraan yang paling diminati di Indonesia dan Thailand," lanjut Wei.

Fokus Produksi yang Berbeda

Pabrik GAC Aion di Thailand, yang telah beroperasi sejak Januari 2024, akan memfokuskan diri pada produksi kendaraan berukuran kecil dan menengah dengan harga yang lebih terjangkau. Fasilitas yang berlokasi di kawasan industri Rayong, bagian dari Eastern Economic Corridor (EEC), ini merupakan basis produksi luar negeri pertama GAC Aion dengan investasi mencapai 64,8 juta dollar AS atau sekitar Rp 972 miliar. Kapasitas produksi pabrik ini mencapai 50.000 unit per tahun, dan fase pertama pembangunan diharapkan selesai pada Juli 2025 dengan model awal yang diproduksi adalah Aion Y Plus versi setir kanan.

Sementara itu, pabrik GAC Aion di Indonesia, yang merupakan hasil kerja sama dengan Indomobil Group melalui skema joint venture, akan lebih fokus pada produksi kendaraan berukuran lebih besar seperti SUV dan MPV 7-seater. Struktur kepemilikan dalam joint venture ini terdiri dari 51 persen saham milik Indomobil Group dan 49 persen oleh GAC. Fasilitas manufaktur ini berlokasi di Purwakarta, Jawa Barat, dan dioperasikan oleh anak perusahaan Indomobil Group, PT National Assemblers.

Investasi yang dialokasikan untuk pabrik di Indonesia mencapai Rp 1 triliun dengan kapasitas produksi awal 20.000 unit per tahun. Kapasitas produksi ini akan ditingkatkan secara bertahap hingga mencapai 50.000 unit per tahun. Pabrik ini memiliki kemampuan untuk memproduksi berbagai jenis EV, termasuk BEV, HEV, PHEV, dan REEV. Model pertama yang diproduksi di pabrik ini adalah Aion V, yang saat ini telah memenuhi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 40 persen.

Kemitraan Strategis untuk Sukses di Pasar Lokal

Wei menekankan pentingnya kemitraan lokal untuk sukses di pasar Indonesia yang kompleks. "Indonesia bukan pasar yang mudah, oleh karena itu kami membutuhkan mitra lokal," ujarnya.

Strategi joint venture dipilih karena GAC Aion telah memiliki pengalaman yang sukses dalam bermitra dengan merek-merek besar seperti Honda dan Toyota di pasar Tiongkok.