Pengasuh Pesantren di Kangean Diduga Lakukan Tindak Asusila, Warga Ungkap Sosoknya yang Tertutup
Kasus dugaan pencabulan yang melibatkan seorang pengasuh pondok pesantren (ponpes) berinisial S di Pulau Kangean, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, mengejutkan warga sekitar. S, yang diduga melakukan tindakan asusila terhadap belasan santrinya, dikenal sebagai sosok yang kurang berinteraksi dengan masyarakat luas.
Ahmad Hudri, Kepala Desa setempat, mengungkapkan keterkejutannya atas kasus yang menimpa S. Terlebih, S diketahui memiliki dua istri. Hudri menyebutkan bahwa S cenderung tertutup dalam berkomunikasi, terutama dengan tokoh masyarakat dan warga sekitar. Kehadirannya dalam kegiatan sosial kemasyarakatan pun terbilang minim.
Menurut penuturan Hudri, S lebih banyak menghabiskan waktunya di lingkungan pesantren. Aktivitas keagamaan seperti mengaji, qira'ah, dan pembelajaran kitab kuning berjalan lancar di ponpes tersebut. Kualitas santri pun diakui cukup baik, sehingga tidak menimbulkan kecurigaan dari pihak desa. Pemantauan berkala terhadap pesantren juga tidak menunjukkan adanya aktivitas yang mencurigakan.
Selain dikenal tertutup, Hudri mengungkapkan bahwa sifat asli S yang cukup keras baru terungkap belakangan ini. Pihak desa sendiri mengakui bahwa hubungan mereka dengan S tidak terlalu dekat, mengingat ketidakaktifannya dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Sekolah di lingkungan ponpes tersebut telah berdiri sekitar 10 tahun, sementara pesantren itu sendiri telah lama ada dan secara turun-temurun mengajarkan ilmu agama.