Bahaya Tren Kecantikan Dini di Kalangan Remaja: Studi Ungkap Dampak Negatif Media Sosial

Demam kecantikan yang melanda media sosial, khususnya di kalangan remaja, kini memicu kekhawatiran di kalangan ahli kesehatan. Fenomena ini bahkan menjangkau anak-anak usia sekolah dasar, yang mulai meniru rutinitas perawatan kulit yang sebenarnya tidak sesuai dengan usia mereka.

Obsesi remaja terhadap penampilan semakin meningkat, didorong oleh konten-konten seperti video "get ready with me" (GRWM) yang populer di platform seperti TikTok dan Instagram. Survei menunjukkan peningkatan signifikan dalam jumlah remaja yang memiliki dan menggunakan produk perawatan kulit.

Sebuah studi dari Northwestern University menyoroti potensi dampak buruk dari tren ini terhadap kesehatan kulit remaja. Studi tersebut menemukan bahwa remaja menghabiskan banyak uang untuk produk perawatan kulit yang berpotensi menyebabkan iritasi, kemerahan, dan kurangnya perlindungan terhadap sinar matahari.

"Sangat mengkhawatirkan melihat remaja mencurahkan begitu banyak waktu dan perhatian pada kulit mereka," kata Dr. Molly Hales, peneliti pascadoktoral dan dokter kulit bersertifikat di Northwestern University Feinberg School of Medicine.

Untuk memahami fenomena ini, Hales dan timnya membuat akun TikTok palsu yang menyamar sebagai remaja berusia 13 tahun. Mereka mengumpulkan dan menganalisis 100 video unik dari halaman "For You", berfokus pada demografi pembuat konten, produk yang digunakan, dan total biaya perawatan.

Hasilnya menunjukkan bahwa remaja usia 7 hingga 18 tahun rata-rata menggunakan enam produk wajah secara bersamaan. Beberapa bahkan menggunakan lebih dari selusin produk dalam satu rutinitas. Para peneliti memperkirakan bahwa remaja menghabiskan rata-rata $168 per bulan untuk produk perawatan kulit, dengan beberapa kasus ekstrem mencapai lebih dari $500.

Video-video yang paling banyak ditonton menampilkan produk dengan rata-rata 11 bahan aktif. Dalam satu contoh, seorang kreator mengaplikasikan 10 produk ke wajahnya dalam waktu enam menit.

"Saat mengaplikasikan produk, dia mulai merasakan ketidaknyamanan dan sensasi terbakar, dan dalam beberapa menit terakhir, dia menunjukkan reaksi kulit yang nyata," kata Dr. Tara Lagu, penulis senior studi dan dosen kedokteran dan ilmu sosial medis di Feinberg.

Hales menjelaskan bahwa iritasi dapat terjadi akibat kombinasi bahan aktif yang tidak cocok atau penggunaan bahan aktif yang sama secara berlebihan. Remaja juga berisiko mengalami peningkatan sensitivitas terhadap sinar matahari dan alergi kulit yang dikenal sebagai dermatitis kontak alergi, yang ditandai dengan ruam.

Ironisnya, hanya 26% dari rutinitas perawatan kulit di siang hari yang mencakup penggunaan tabir surya, padahal perlindungan terhadap sinar UV sangat penting untuk mencegah kanker kulit. Studi ini merupakan penelitian peer-reviewed pertama yang mengeksplorasi sisi positif dan negatif dari tren perawatan kulit remaja yang dibagikan di media sosial.

Selain risiko kesehatan fisik, ada juga dampak psikologis yang perlu diperhatikan. Konten kecantikan di media sosial dapat menurunkan kepercayaan diri dan menciptakan tekanan untuk mencapai standar kecantikan yang tidak realistis.

"Mengejar kesehatan telah menjadi semacam kebajikan dalam masyarakat kita, tetapi ideal 'kesehatan' juga sangat erat kaitannya dengan kecantikan ideal, kelangsingan, dan kulit putih," tambah Hales.

"Hal yang berbahaya tentang 'perawatan kulit' di era media sosial adalah diklaim sebagai kesehatan," pungkasnya.