Operasi Pemisahan Kembar Siam Asal Tasikmalaya Berjalan Sukses di RSHS Bandung
Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung kembali mencatatkan keberhasilan dalam dunia medis dengan melakukan operasi pemisahan bayi kembar siam. Kali ini, dua bayi perempuan bernama Nadia dan Nadira, asal Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, berhasil dipisahkan melalui operasi kompleks yang melibatkan puluhan dokter spesialis.
Nadia dan Nadira, yang terlahir dengan kondisi dempet bokong atau pygopagus, telah mendapatkan penanganan intensif di RSHS Bandung sejak usia dua hari. Ketua tim dokter yang menangani kasus ini, dr. Dikki Drajat Kusmayafi, menjelaskan bahwa operasi pemisahan tidak dapat dilakukan secara langsung setelah kelahiran. Pertimbangan medis yang matang diperlukan, termasuk memastikan kondisi bayi stabil dan organ-organ vital berfungsi dengan baik. Setelah melalui serangkaian pemeriksaan dan persiapan, tim dokter memutuskan untuk melakukan operasi pada awal Mei 2025, ketika usia kedua bayi telah mencapai usia ideal untuk tindakan tersebut.
Kondisi dempet bokong yang dialami Nadia dan Nadira menjadi tantangan tersendiri bagi tim medis. Struktur tulang ekor, tulang sakrum, serta sebagian sistem organ seperti usus besar dan organ reproduksi, saling terhubung. Lebih lanjut, dr. Dikki menjelaskan bahwa kedua bayi memiliki dua vagina yang menyatu pada bagian luar. Meskipun demikian, masing-masing bayi memiliki organ reproduksi internal yang lengkap, termasuk rahim dan indung telur.
Selain tantangan tersebut, tim dokter juga harus mengatasi masalah anus yang hanya satu untuk kedua bayi. Untuk mengatasi hal ini, tim bedah berhasil membuatkan anus baru untuk masing-masing bayi, serta melakukan kolostomi sementara. Prosedur ini dilakukan untuk memastikan fungsi pencernaan bayi berjalan dengan baik pasca operasi. Namun, dr. Dikki menambahkan bahwa perbaikan lebih lanjut pada anus yang baru dibuat masih akan menjadi fokus tim dokter di masa mendatang.
Kompleksitas operasi pemisahan ini membutuhkan tim yang solid dan multidisiplin. Lebih dari 40 dokter spesialis terlibat, termasuk ahli bedah anak, ahli bedah plastik, ahli anestesi, ahli radiologi, dan ahli saraf. Ahli saraf memegang peranan penting dalam memantau sistem persarafan bayi selama operasi berlangsung. Sensor-sensor dipasang di tubuh bayi untuk memastikan pemisahan dilakukan secara aman dan proporsional, tanpa merusak saraf-saraf penting.
Keberhasilan pemisahan Nadia dan Nadira menambah daftar panjang prestasi RSHS Bandung dalam penanganan kasus kembar siam. Dr. Dikki mengungkapkan bahwa Nadia dan Nadira adalah pasangan kembar siam ke-13 yang berhasil dipisahkan di rumah sakit tersebut, dari total 33 kasus kembar siam yang pernah ditangani. Meskipun tidak semua kasus kembar siam dapat dipisahkan karena keterbatasan organ vital seperti jantung dan otak, RSHS Bandung terus berupaya memberikan penanganan terbaik bagi setiap pasien kembar siam yang datang.
Kasus Nadia dan Nadira menjadi bukti nyata kemajuan ilmu kedokteran di Indonesia, serta dedikasi dan profesionalisme tim medis RSHS Bandung dalam menangani kasus-kasus kompleks. Keberhasilan ini memberikan harapan baru bagi para orang tua yang memiliki anak kembar siam, bahwa dengan penanganan yang tepat, buah hati mereka dapat memiliki kesempatan untuk hidup mandiri dan berkualitas.