Optimisme Pasar Modal: IHSG Diprediksi Menguat Didorong Sentimen Positif Rupiah dan Global
Optimisme kembali menyelimuti pasar modal Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan akan melanjutkan tren penguatan setelah mengalami koreksi tipis pada perdagangan sebelumnya. Sentimen positif dari stabilitas nilai tukar rupiah dan perkembangan positif di kancah global menjadi katalis utama yang diharapkan dapat mendorong performa IHSG.
Pada penutupan perdagangan kemarin, IHSG tercatat melemah ke level 7.222, mengalami penurunan sebesar 0,11 persen atau setara dengan 8,28 poin. Tekanan terhadap IHSG terutama disebabkan oleh koreksi pada saham-saham unggulan seperti TLKM, BBRI, dan BMRI. Namun, Rully Arya Wisnubroto, Senior Economist Mirae Sekuritas, menilai bahwa penurunan tersebut tidak disebabkan oleh sentimen negatif yang fundamental. Ia menekankan bahwa sentimen pasar secara umum masih relatif stabil.
"Dalam jangka pendek, kami tetap mempertahankan pandangan positif terhadap pasar saham Indonesia," ujar Rully dalam risetnya. Optimisme ini didasarkan pada beberapa faktor kunci. Pertama, stabilitas nilai tukar rupiah yang menunjukkan ketahanannya terhadap tekanan eksternal. Rupiah tercatat mengalami penguatan tipis ke level 16.260 per dollar AS pada perdagangan kemarin.
Kedua, perkembangan positif dalam hubungan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China. Negosiasi yang sedang berlangsung antara kedua negara telah menghasilkan konsensus awal untuk meredakan ketegangan dagang. Hal ini diharapkan dapat memberikan sentimen positif bagi aset-aset berisiko secara global.
Namun, Rully juga menyoroti beberapa tantangan dari dalam negeri. Data ekonomi Indonesia menunjukkan tanda-tanda pelemahan, dengan angka PMI manufaktur yang cukup lemah dalam dua bulan terakhir. Selain itu, surplus neraca perdagangan bulan April menjadi yang terendah dalam lima tahun terakhir.
"Meskipun dihadapkan pada tantangan ini, kami menilai pasar justru menjadi terlalu optimis, terutama didorong oleh faktor eksternal yang positif," ungkap Rully. Pasar saham global dalam beberapa hari terakhir mengalami reli, dengan S&P 500 mencatat kenaikan kuat selama tiga hari berturut-turut sebelum terkoreksi tipis semalam. Data inflasi AS untuk Mei tercatat 2,4 persen secara tahunan, atau sedikit di bawah konsensus 2,5 persen, sehingga meredakan kekhawatiran bahwa tarif yang diberlakukan saat ini akan langsung mendorong kenaikan inflasi. Konsensus awal kebijakan dagang AS-China juga membantu meredakan kekhawatiran atas gangguan rantai pasok global.
Secara teknikal, Senior Technical Analyst Panin Sekuritas, Mayang Anggita, mengamati bahwa IHSG pada perdagangan kemarin ditutup di zona merah dan belum mampu menembus resistance minor di level 7.175-7.240. Ia mengingatkan bahwa jika IHSG hari ini ditutup di bawah 7.170, ada potensi pelemahan lebih lanjut menuju level 7.058 hingga angka psikologis 7.000.