Anggota DPR Soroti Fokus TNI pada Kesiapan Tempur di Tengah Rencana Pembentukan Batalyon Teritorial
Anggota Komisi I DPR RI, Tb Hasanuddin, menyoroti pentingnya peningkatan kesiapan tempur prajurit TNI melalui program pelatihan intensif. Hal ini disampaikan terkait rencana TNI AD untuk merekrut 24.000 calon Tamtama yang akan ditempatkan pada Batalyon Teritorial Pembangunan.
Tb Hasanuddin menekankan bahwa, sesuai dengan undang-undang yang berlaku, fokus utama TNI seharusnya tetap pada peningkatan kemampuan tempur melalui latihan yang berkelanjutan. Ia juga mengingatkan bahwa Indonesia menganut sistem pertahanan rakyat semesta, yang berarti seluruh potensi negara harus dimanfaatkan untuk kepentingan pertahanan dan keamanan.
Menurutnya, doktrin utama yang dianut adalah perang berlarut, yang dimulai dengan perang konvensional dan berlanjut dengan perang gerilya jika diperlukan, hingga mencapai kemenangan. Dalam konteks perang berlarut, keterlibatan prajurit dalam menyiapkan logistik, termasuk bahan makanan, menjadi sangat penting untuk memastikan perlawanan dapat berlangsung tanpa kendala kekurangan logistik.
"Dalam keadaan perang, prajurit TNI dapat turun langsung menjadi petani di lapangan dalam membangun depot-depot logistik," jelas Tb Hasanuddin.
Namun, dalam situasi damai, Tb Hasanuddin berpendapat bahwa tugas ketahanan pangan sebaiknya diserahkan kepada kementerian atau lembaga terkait. Ia menyarankan agar pembangunan depot logistik atau ketahanan pangan tidak ditangani langsung oleh prajurit TNI aktif, melainkan diserahkan kepada Kementerian Pertanian yang memiliki struktur yang sesuai.
Sebelumnya, TNI AD mengumumkan rencana merekrut 24.000 calon prajurit Tamtama pada tahun 2025. Kepala Dinas Penerangan TNI AD, Brigjen Wahyu Yudhayana, menjelaskan bahwa rekrutmen besar-besaran ini didasari oleh tingginya minat generasi muda untuk menjadi TNI. Bahkan, realisasi penerimaan prajurit TNI AD selama lima tahun terakhir selalu melampaui target.
Wahyu menegaskan bahwa rekrutmen ini merupakan hasil perencanaan jangka panjang dan bukan tindakan mendadak. Para prajurit yang direkrut akan dipersiapkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat di bidang ketahanan pangan dan pelayanan kesehatan.
Rekrutmen ini sejalan dengan Doktrin Pertahanan Negara 2023, yang mengamanatkan pembangunan sistem pertahanan mandiri, kuat, dan berbasis kewilayahan. Sebagai implementasinya, TNI AD akan membentuk Batalyon Teritorial Pembangunan di 514 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
Setiap batalyon akan berdiri di lahan seluas 30 hektar dan memiliki kompi-kompi yang secara langsung menjawab kebutuhan masyarakat, antara lain:
- Kompi Pertanian: Mendukung ketahanan pangan nasional.
- Kompi Peternakan: Memperkuat penyediaan protein hewani.
- Kompi Medis: Sebagai garda depan pelayanan kesehatan masyarakat dan penanganan bencana.
- Kompi Zeni: Memfokuskan diri pada pembangunan infrastruktur, khususnya di wilayah tertinggal dan rawan bencana.
Wahyu menambahkan bahwa dengan pendekatan ini, prajurit TNI AD tidak hanya dituntut siap tempur, tetapi juga menjadi kekuatan pembangunan yang hadir dan bermanfaat langsung di tengah masyarakat.