Guru Honorer di Bogor Sambut Bantuan Subsidi Upah untuk Ringankan Beban Ekonomi
Bogor, Jawa Barat - Tian, seorang guru honorer yang berdedikasi mengajar di tiga sekolah berbeda di kawasan Megamendung, Bogor, menyambut gembira kabar mengenai Bantuan Subsidi Upah (BSU). Bantuan ini diharapkan dapat meringankan beban ekonominya, terutama dalam membayar cicilan laptop yang ia gunakan sebagai penunjang utama dalam kegiatan belajar mengajar.
Tian, yang mengajar mata pelajaran matematika, mengungkapkan bahwa laptop tersebut merupakan investasi penting untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. "Laptop sangat menunjang pekerjaan saya sebagai guru," ujarnya, Kamis (12/6/2025). Ia berharap BSU yang diterimanya dapat membantu meringankan beban cicilan laptop tersebut.
Setelah enam tahun mengabdi sebagai guru honorer, Tian berpeluang untuk pertama kalinya menerima BSU. Ia telah memasukkan nomor rekeningnya dan menunggu verifikasi lebih lanjut. "Kata teman, kalau sudah bisa memasukkan rekening, berarti termasuk penerima BSU," ungkapnya dengan nada optimis.
Kabar mengenai pencairan BSU menjadi angin segar bagi Tian. Ia merasa bersyukur namanya terverifikasi sebagai penerima bantuan tersebut. "Dulu sempat dengar kabar BSU, tapi tidak pernah berharap dapat. Alhamdulillah, kali ini sepertinya benar-benar cair," tuturnya.
Perjuangan Tian sebagai guru honorer mulai mendapat pengakuan dalam setahun terakhir. Namanya baru terdaftar dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik) pada tahun 2022. Dampaknya baru terasa ketika ia didaftarkan ke BPJS Ketenagakerjaan pada semester ajaran ini. "Saya baru dapat BPJS Ketenagakerjaan dari sekolah beberapa bulan ini. Sebelumnya tidak pernah dapat," jelasnya.
Dedikasi Tian dalam dunia pendidikan patut diacungi jempol. Dalam seminggu, ia mengajar hingga 50 jam di tiga sekolah berbeda, yang terdiri dari dua SMP dan satu SMK. Meskipun jam mengajarnya sangat padat, gaji bulanannya tidak mencapai angka yang ideal, yaitu tidak lebih dari Rp 2 juta.
Ia merinci, di sekolah pertama ia menerima gaji Rp 405.000 per bulan dengan tarif Rp 27.000 per jam. Di sekolah kedua, gajinya sebesar Rp 112.000 per bulan dengan tarif Rp 14.000 per jam. Sementara di sekolah ketiga, gajinya sekitar Rp 1,08 juta.
"Di sekolah pertama, saya mengajar 15 jam/minggu. Lalu yang kedua sekitar 8 jam/minggu dan sekolah terakhir selama 27 jam/minggu," jelas Tian.
"Itu di luar semisal saya punya jabatan seperti wali kelas, kurikulum, pembina, dan sebagainya ya," tambahnya.
Dengan kondisi tersebut, Tian sangat berharap dana BSU yang akan diterimanya dapat menjadi tambahan pendapatan yang berarti, selain gaji bulanan yang diterimanya. Bantuan ini diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan meringankan beban ekonomi yang selama ini ia tanggung.