Banjir Rendam SDN 216 Sondariah Bandung, Kegiatan Belajar Mengajar Dilakukan di Kantor Kelurahan dan RW

Banjir di Bandung Paksa Siswa SDN 216 Sondariah Belajar di Kantor Kelurahan dan RW

Luapan Sungai Cipanjalu akibat hujan deras beberapa hari terakhir telah mengakibatkan banjir yang merendam SDN 216 Sondariah di Kelurahan Rancanumpang, Kecamatan Gedebage, Kota Bandung, Jawa Barat. Banjir yang mencapai ketinggian 30 sentimeter ini telah menggenangi seluruh ruangan sekolah, termasuk ruang kelas, perpustakaan, dan ruang guru, sejak sepekan terakhir. Kondisi ini memaksa pihak sekolah untuk memindahkan kegiatan belajar mengajar (KBM) ke lokasi alternatif guna menjamin kelancaran proses pendidikan bagi para siswa.

Sebagai solusi sementara, sekolah menempatkan siswa di beberapa lokasi berbeda. Menurut keterangan Cep Rahmat, seorang guru kelas 3, siswa kelas 1 dan 2 mengikuti KBM di kantor kelurahan, sementara beberapa siswa lain belajar di kantor RW Pitaloka dan di SMP 54. Sebelum perpindahan lokasi ini, pembelajaran dilakukan secara daring atau Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) selama beberapa hari karena kondisi sekolah yang terendam banjir. Kondisi ini diakui juga menyulitkan karena beberapa rumah siswa juga terkena dampak banjir.

"Kepala sekolah menyarankan untuk kembali belajar, tapi ada yang di kantor RW Pitaloka terus di SMP 54, sedangkan kelas 1 dan 2 di kantor kelurahan," jelas Cep Rahmat. Ia menambahkan bahwa PJJ diterapkan sebagai solusi sementara sebelum lokasi belajar alternatif dapat disiapkan. "Pembelajaran kemarin di PJJ-kan dulu, terus pertama kali banjir tidak ada pembelajaran karena anak-anaknya juga (di rumahnya) kebanjiran," tambahnya.

Pihak sekolah berharap pemerintah Kota Bandung segera memberikan solusi permanen untuk mengatasi masalah banjir yang berulang ini. Mereka mengusulkan beberapa tindakan, antara lain pembangunan penahan banjir atau meninggikan bangunan sekolah sekitar 80-100 sentimeter untuk mencegah genangan air kembali terjadi saat hujan deras. "Harapannya supaya sekolah ini dibangun (penghalang) atau ditinggikan sekitar 100 meter atau 80 sentimeter, supaya tidak terdampak banjir lagi," ungkap Cep Rahmat menyampaikan harapan dari pihak sekolah.

Sementara itu, Siti Aisyah (42), salah satu orang tua siswa, menyatakan bahwa meskipun anaknya harus belajar di luar kelas, hal terpenting adalah anak-anaknya tetap dapat melanjutkan pendidikan. "Yang penting ada kegiatan sekolah dan anak biar bisa belajar sedikit-sedikit. Terganggu sih enggak, ini buat kepentingan anak juga, yang penting bisa belajar. Semoga tidak terdampak banjir lagi dan lebih lancar ke depannya," ujarnya mengungkapkan rasa syukurnya atas langkah yang diambil sekolah. Ia berharap agar kondisi ini tidak berulang dan proses belajar mengajar dapat kembali normal di sekolah.

Kejadian ini menggarisbawahi perlunya solusi komprehensif dari pemerintah untuk mengatasi masalah banjir yang sering terjadi dan berdampak signifikan terhadap kegiatan belajar mengajar di sekolah-sekolah yang terletak di daerah rawan banjir. Langkah-langkah preventif dan solusi jangka panjang sangat dibutuhkan untuk melindungi proses pendidikan anak-anak dan memastikan mereka dapat belajar di lingkungan yang aman dan nyaman.