Ribuan Warga Flores Timur Masih Bertahan di Pengungsian Akibat Erupsi Lewotobi Laki-laki
Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih menyisakan dampak signifikan bagi ribuan warga. Hingga saat ini, sebanyak 4.007 jiwa masih mengungsi, meninggalkan rumah mereka demi keselamatan. Mereka berasal dari enam desa yang terdampak langsung, yaitu Klatanlo, Hokeng Jaya, Boru, Nawokote, Dulipali, dan Nobo.
Menurut Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Flores Timur, Heronimus Lamawuran, para pengungsi tersebar di berbagai lokasi, termasuk posko-posko pengungsian yang telah didirikan, hunian sementara yang disediakan pemerintah, serta rumah-rumah warga yang bersedia menampung. Sebanyak 1.412 jiwa tercatat berada di empat posko pengungsian. Sementara itu, 1.817 jiwa lainnya menghuni hunian sementara yang telah disiapkan. Sebagian besar, yakni 2.595 jiwa, memilih untuk mengungsi secara mandiri dengan tinggal di rumah-rumah warga yang tersebar di beberapa kecamatan.
"Mereka menyebar di beberapa wilayah kecamatan seperti Wulanggitang, Ilebura, Titehena, Demon Pagong, dan beberapa daerah lain," jelas Heronimus.
Pemerintah Kabupaten Flores Timur terus berupaya untuk memberikan yang terbaik bagi para pengungsi. Salah satu langkah yang diambil adalah membuka akses jalan menuju lokasi hunian tetap di Noboleto. Setelah akses jalan ini selesai, pembangunan hunian tetap akan segera dimulai, memberikan harapan baru bagi para pengungsi untuk segera memiliki tempat tinggal yang layak.
Sementara itu, aktivitas vulkanik Gunung Lewotobi Laki-laki masih terus dipantau secara ketat. Saat ini, status gunung tersebut berada pada level III atau Siaga. Pos pengamatan gunung melaporkan adanya aktivitas kegempaan, termasuk gempa tremor non harmonik, gempa hybrid, gempa vulkanik dalam, dan gempa tektonik jauh. Secara visual, gunung terlihat berkabut, dan endapan lava dilaporkan mengalir ke arah barat dan barat laut sejauh 3.800 meter dari pusat erupsi, serta ke arah timur laut sejauh 4.340 meter.
Mengingat kondisi tersebut, masyarakat diimbau untuk tidak melakukan aktivitas apapun dalam radius 6 kilometer dari pusat erupsi. Pemerintah daerah terus berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait untuk memastikan keselamatan dan kesejahteraan para pengungsi, serta mengantisipasi kemungkinan terjadinya erupsi susulan.