Lucy Guo: Dari *Dropout* Kuliah Hingga Jadi Wanita Terkaya Berkat Prinsip Hidup Hemat

Kisah inspiratif Lucy Guo, co-founder Scale AI, menjadi sorotan publik dalam beberapa waktu terakhir. Di usia yang relatif muda, 30 tahun, ia berhasil meraih predikat wanita terkaya di dunia. Kesuksesannya ini bukan hanya didukung oleh kecerdasan dan kerja kerasnya, tetapi juga oleh prinsip hidup hemat yang ia pegang teguh.

Guo dikenal sebagai sosok yang rendah hati dan tidak gemar bermewah-mewahan. Ia bahkan mengaku lebih suka bergaya seolah-olah tidak memiliki uang, meskipun pada kenyataannya ia adalah seorang jutawan. Pendekatan ini sangat kontras dengan gaya hidup glamor yang sering diasosiasikan dengan orang-orang kaya.

Perjalanan karier Guo dimulai dari ketertarikannya pada dunia teknologi sejak usia dini. Ia belajar coding sejak kelas 2 SD, meskipun sempat mendapat larangan dari ibunya yang khawatir akan sulitnya wanita bersaing di bidang tersebut. Namun, Guo tidak menyerah dan terus mengejar minatnya.

Sebelum mendirikan start-up teknologinya sendiri, Moment, Guo bekerja di Scale AI bersama Alexander Wang. Ia juga pernah bekerja di Quora dan menjadi desainer wanita pertama di Snapchat. Pada tahun 2018, ia meninggalkan Scale AI, tetapi masih memiliki saham sebesar 5%. Forbes melaporkan bahwa penjualan Scale AI akan membuat kekayaan bersih Guo melonjak menjadi $1,2 miliar (sekitar Rp19 triliun).

Guo mengungkapkan bahwa ia tidak suka membuang-buang uang untuk hal-hal yang tidak perlu. Ia lebih memilih untuk hidup sederhana dan fokus pada hal-hal yang benar-benar penting. Bahkan, ia mengatakan bahwa asistennya hanya mengantarnya dengan Honda Civic yang sudah tua. Untuk pakaian sehari-hari, ia sering membeli dari situs belanja online Shein atau memanfaatkan promo beli satu gratis satu di Uber Eats.

CEO platform komunitas kreator, Passes, ini memiliki pendekatan unik terhadap uang. Ia menyebutnya dengan istilah "berpura-pura tidak punya uang tapi tetap kaya". Menurutnya, status miliuner tidak harus ditunjukkan dengan memakai barang-barang mewah, tetapi lebih pada pola pikir.

Guo berpendapat bahwa orang-orang yang sering menghabiskan uang untuk pakaian bermerek, mobil mewah, dan sebagainya, seringkali merasa insecure dan perlu menunjukkan kesuksesan mereka kepada orang lain. Sementara itu, miliarder yang sering terlihat mengenakan kaus oblong, celana jeans, dan hoodie adalah karena mereka tidak perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun.

Kisah sukses Guo ini menginspirasi banyak orang, terutama wanita dan pengusaha di dunia teknologi. Ia membuktikan bahwa dengan kerja keras, ketekunan, dan prinsip hidup yang benar, siapa pun bisa meraih kesuksesan, tanpa harus mengorbankan nilai-nilai pribadi.