Eskalasi Konflik Iran-Israel, Muslimat NU Intensifkan Doa untuk Perdamaian Global

Eskalasi ketegangan antara Iran dan Israel telah memicu kekhawatiran global. Menanggapi situasi ini, Ketua Umum Dewan Pembina Pimpinan Pusat (PP) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU), Khofifah Indar Parawansa, menyampaikan keprihatinan mendalam dan menyerukan umat Islam untuk meningkatkan doa demi terciptanya perdamaian dunia.

Dalam sambutannya pada acara Pembukaan Pelatihan Paralegal Muslimat NU di Jakarta, Khofifah mengungkapkan bahwa konflik yang berkepanjangan, khususnya yang melibatkan potensi serangan terhadap fasilitas nuklir, dapat memicu destabilisasi kawasan dan memperburuk kondisi kemanusiaan, terutama bagi perempuan dan anak-anak yang merupakan kelompok paling rentan dalam situasi konflik.

"Konflik di berbagai belahan dunia selalu berdampak besar pada masyarakat sipil, terutama perempuan dan anak-anak," ujarnya.

Khofifah juga menyoroti peran aktif Muslimat NU dalam menjaga stabilitas bangsa melalui pendekatan spiritual. Ia mengungkapkan bahwa Muslimat NU secara rutin mengadakan khataman Al-Quran sebagai upaya untuk memohon keselamatan dan kedamaian bagi Indonesia. Upaya ini, menurutnya, merupakan wujud komitmen Muslimat NU untuk berkontribusi dalam menjaga keutuhan dan kedamaian bangsa.

"Muslimat NU mengawal bangsa dengan mengkhatamkan Alquran sebanyak 165 ribu kali. Ini adalah cara kami untuk memastikan Indonesia tetap menjadi bangsa yang aman, damai, dan sejahtera," tegasnya.

Lebih lanjut, Khofifah menekankan bahwa upaya Muslimat NU dalam membangun kesejukan dan kedamaian di dalam negeri tidak dapat dipisahkan dari situasi global yang penuh dengan gejolak, termasuk konflik bersenjata di Timur Tengah. Ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersama-sama menghadapi tantangan global dan berkontribusi dalam mewujudkan peradaban yang lebih baik.

Selain itu, Khofifah juga mengingatkan pentingnya implementasi Beijing Platform for Action, sebuah kerangka kerja global yang dihasilkan dari Konferensi Dunia tentang Perempuan di Beijing. Platform ini mengidentifikasi 12 area kritis aksi, termasuk isu perempuan, anak-anak, dan konflik bersenjata. Khofifah menekankan bahwa implementasi platform ini sangat penting untuk melindungi kelompok rentan dalam situasi konflik dan memastikan bahwa hak-hak mereka dihormati.

"Beijing Platform for Action harus menjadi pengikat bagi seluruh negara di dunia untuk melindungi perempuan dan anak-anak dalam situasi konflik," pungkasnya.

Berikut adalah poin-poin penting yang disoroti Khofifah Indar Parawansa:

  • Keprihatinan mendalam atas eskalasi konflik Iran-Israel.
  • Seruan untuk meningkatkan doa demi perdamaian dunia.
  • Dampak konflik terhadap perempuan dan anak-anak sebagai kelompok rentan.
  • Peran aktif Muslimat NU dalam menjaga stabilitas bangsa melalui pendekatan spiritual.
  • Pentingnya implementasi Beijing Platform for Action.