Upaya Kolaboratif Pulihkan Ekosistem Mangrove di Pesisir Utara Sumbawa
Wilayah pesisir utara Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, tengah menghadapi tantangan serius akibat kerusakan lingkungan yang memicu abrasi. Menyadari ancaman tersebut, masyarakat setempat bersama Lembaga Olah Hidup (LOH) mengambil inisiatif untuk memulihkan ekosistem mangrove melalui aksi restorasi dan rehabilitasi.
Kegiatan yang berpusat di Desa Bale Berang, Kecamatan Utan, Kabupaten Sumbawa ini melibatkan sekitar 50 warga yang mendapatkan pelatihan intensif mengenai pembibitan, rehabilitasi, dan restorasi hutan mangrove. Program ini merupakan bagian dari upaya yang lebih luas yang menjangkau 10 desa di sepanjang pesisir utara Sumbawa.
Yani Sagaroa, Direktur LOH, menekankan pentingnya tindakan segera untuk mengatasi degradasi lingkungan di wilayah pesisir. Ia menyoroti dampak buruk seperti banjir, krisis air bersih, cuaca ekstrem, dan kenaikan suhu akibat pemanasan global. Menurutnya, mangrove adalah solusi alami yang efektif untuk memitigasi masalah-masalah tersebut. Kemampuan mangrove dalam memecah ombak, mencegah abrasi, dan menyediakan habitat bagi berbagai biota laut menjadikannya aset berharga bagi ekosistem pesisir.
Inisiatif ini terwujud berkat kolaborasi antara LOH Sumbawa, Kementerian Kehutanan RI, Kementerian Lingkungan Hidup RI, Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH), Indonesia’s FOLU Net Sink 2030, dan Pemerintah Desa Bale Berang. Keterlibatan berbagai pihak menunjukkan komitmen bersama untuk menjaga kelestarian lingkungan.
Ketua KPH Puncak Ngengas, Sirajuddin, menyoroti peran penting mangrove dalam menjaga kualitas air tawar bagi masyarakat pesisir. Mangrove membantu mengurangi kadar garam dalam air, sehingga air yang dikonsumsi lebih layak. Ia mengapresiasi peran aktif organisasi non-pemerintah seperti LOH dalam membantu masyarakat mengatasi masalah lingkungan dan mengisi kesenjangan yang belum terjangkau oleh pemerintah.
Muttakin, Ketua Forum Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu (PSDAT) Sumbawa, menjelaskan tantangan pengurangan risiko bencana akibat perubahan iklim dan hidrometeorologi. Ia menjelaskan bagaimana perubahan iklim mengganggu siklus hidrologi, menyebabkan banjir akibat kerusakan daerah resapan di pegunungan. Wilayah pesisir menjadi yang paling rentan terhadap dampak pemanasan global, termasuk kenaikan permukaan air laut.
Ismed Tarunata dari BKPH Ampang Plampang, bertindak sebagai fasilitator dalam pelatihan ini. Ia mengajarkan metode penyemaian mangrove menggunakan selongsong bambu dan cara menentukan lokasi penanaman yang tepat. Penyemaian dilakukan di muara sungai Dusun Badang, dengan fokus pada penanaman di area pasang surut air laut. Lokasi ini dipilih karena memudahkan perawatan dengan memanfaatkan pasang surut alami.
Salah seorang peserta pelatihan, Elisa, menyampaikan harapannya agar upaya restorasi tidak hanya berhenti pada penanaman mangrove. Ia menekankan pentingnya keberlanjutan program ini, termasuk advokasi terhadap penyebab kerusakan lingkungan seperti illegal logging dan pembukaan lahan untuk pertanian jagung. Elisa mengapresiasi pelatihan yang memberikan pengetahuan dan keterampilan praktis bagi masyarakat, dan berharap pendampingan serupa dapat terus dilakukan.
Diharapkan dengan adanya upaya restorasi mangrove ini, ekosistem pesisir Sumbawa dapat kembali pulih dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat serta lingkungan.