Penyelidikan Kematian Mahasiswa UKI Akibat Pengeroyokan: 23 Saksi Diperiksa, Pelaku Masih Misterius

Penyelidikan Kematian Mahasiswa UKI Akibat Pengeroyokan: 23 Saksi Diperiksa, Pelaku Masih Misterius

Sepekan pasca tewasnya Kenzha Ezra Walewangko (21), mahasiswa Universitas Kristen Indonesia (UKI), akibat pengeroyokan di lingkungan kampus Cawang, Jakarta Timur, pada Selasa (4/3), Kepolisian Resor Jakarta Timur (Polrestro Jaktim) masih terus berupaya mengungkap identitas para pelaku. Meskipun telah memeriksa 23 saksi, dari kalangan mahasiswa hingga petugas keamanan kampus, identitas pelaku hingga kini masih menjadi misteri. Kasus ini telah menimbulkan keprihatinan dan desakan dari berbagai pihak, termasuk Ikatan Alumni Fisipol UKI, agar penyelidikan dilakukan secara transparan dan tuntas.

Kapolres Jakarta Timur, Kombes Ary Lilipaly, dalam jumpa pers di UKI pada Jumat (7/3), membenarkan adanya sejumlah foto yang beredar luas di media sosial yang memperlihatkan luka serius di kepala korban. Namun, ia menekankan bahwa kesimpulan akhir mengenai penyebab kematian harus menunggu hasil analisis forensik. "Hasil akhirnya akan dijelaskan oleh ahli, bukan penyidik," tegasnya. Ia menambahkan bahwa penyidik saat ini tengah menganalisis luka pada korban untuk menentukan penyebab pasti kematian dan kaitannya dengan aksi pengeroyokan tersebut. Proses analisis ini memerlukan waktu dan kehati-hatian guna memastikan keakuratan hasil penyelidikan.

Lebih lanjut, Kasus ini telah ditangani oleh pihak kepolisian dengan melakukan serangkaian pemeriksaan terhadap sejumlah saksi. Hingga Selasa (11/3), jumlah saksi yang telah diperiksa mencapai 23 orang. Kombes Nicolas, perwakilan dari pihak kepolisian, menyatakan bahwa proses penyelidikan akan terus berlanjut dan jumlah saksi yang diperiksa kemungkinan akan bertambah. Pihak kepolisian menegaskan komitmennya untuk menjalankan proses penyelidikan sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku, tanpa tergesa-gesa. "Sampai saat ini belum ada kendala. Semuanya masih berjalan sesuai SOP," ujarnya.

Desakan untuk mengungkap kasus ini dengan cepat dan transparan juga datang dari Ikatan Alumni Fisipol UKI. Ketua Ikatan Alumni, Marlen Sitompul, menyatakan dukungan penuh terhadap proses penyelidikan dan mendesak aparat kepolisian untuk mengusut kasus ini hingga tuntas. "Kami akan mengawal kasus ini sampai tuntas. Kami mendesak Polres Jakarta Timur agar mengusut kasus ini hingga tuntas," tegasnya. Selain itu, Ikatan Alumni juga telah melakukan audiensi dengan pihak rektorat UKI untuk membahas insiden ini dan meminta agar kasus ini diungkap secara transparan dan profesional.

Sebagai bentuk duka cita dan kepedulian, Ikatan Alumni Fisipol UKI juga telah melakukan tabur bunga di makam korban. Marlen Sitompul menekankan pentingnya transparansi dan mendesak agar tidak ada informasi yang disembunyikan dalam kasus ini. "Kami mendengar bahwa kejadian ini adalah pengeroyokan, pemukulan, bukan kecelakaan. Artinya, Polres Jakarta Timur harus mengusut kasus ini sampai tuntas dan segera menemukan pelakunya dan segera menetapkan tersangka," pungkasnya. Pihak kepolisian masih bekerja keras untuk mengungkap misteri di balik kematian tragis mahasiswa UKI ini dan memberikan keadilan bagi keluarga korban.

Berikut poin-poin penting dalam penyelidikan:

  • 23 saksi telah diperiksa, namun pelaku belum ditemukan.
  • Luka di kepala korban menjadi fokus penyelidikan.
  • Hasil otopsi dan analisis forensik masih menunggu.
  • Ikatan Alumni UKI mendesak agar kasus ini diungkap secara tuntas.
  • Pihak kepolisian menegaskan komitmen untuk menyelesaikan kasus ini sesuai SOP.