Tragedi Singkawang: Balita Tewas di Tangan Tetangga, Motif Sakit Hati Terungkap
Kasus kematian tragis Rafa Fauzan, seorang balita berusia 1 tahun 11 bulan, yang menggemparkan Kota Singkawang, Kalimantan Barat, akhirnya menemui titik terang. Aparat kepolisian berhasil meringkus UA alias AB, seorang pria yang tak lain adalah tetangga korban, di kawasan Pasar Hongkong, Jalan Budi Utomo.
Penangkapan ini mengakhiri spekulasi dan kecemasan yang melanda masyarakat Singkawang sejak Rafa dilaporkan hilang beberapa hari sebelumnya. Menurut Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Singkawang, AKP Deddi Sitepu, motif di balik pembunuhan ini adalah sakit hati. Pelaku merasa tersinggung oleh perkataan pengasuh korban, yang juga merupakan tetangganya. Sebuah motif yang sungguh ironis dan sulit diterima akal sehat.
Kronologi kejadian yang diungkapkan oleh pihak kepolisian sungguh memilukan. Pada hari nahas itu, sekitar pukul 11.45 hingga 12.00 WIB, Rafa terlihat keluar dari rumah pengasuhnya. UA alias AB kemudian mendekati korban, membekapnya, dan membawanya ke rumahnya yang hanya berjarak beberapa rumah dari kediaman pengasuh. Setibanya di rumah pelaku, balita malang tersebut dimasukkan ke dalam karung plastik dan diletakkan di keranjang sepeda. Akibat kekurangan oksigen, Rafa akhirnya menghembuskan nafas terakhir.
Lebih lanjut, Deddi Sitepu menegaskan bahwa pengasuh dan keluarga korban tidak terlibat dalam aksi keji ini. Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara dan pengecekan barang bukti, pelaku bertindak seorang diri. Dugaan keterlibatan pihak lain telah dibantah oleh pihak kepolisian.
Sebelumnya, Rafa dilaporkan hilang pada Selasa, 10 Juni 2025, sekitar pukul 11.30 WIB saat berada di rumah pengasuhnya di Jalan RA Kartini Gang Kapas, Kelurahan Sekip Lama, Kecamatan Singkawang Tengah. Pencarian intensif yang melibatkan berbagai pihak selama beberapa hari belum membuahkan hasil hingga akhirnya jasad Rafa ditemukan oleh warga di halaman depan masjid, tidak jauh dari lokasi kejadian, pada Jumat, 13 Juni 2025, pagi.
Kasus ini menjadi pelajaran pahit bagi kita semua tentang pentingnya menjaga komunikasi yang baik antar tetangga dan mengendalikan emosi. Perbedaan pendapat atau kesalahpahaman seharusnya diselesaikan dengan cara yang baik, bukan dengan tindakan kekerasan yang merenggut nyawa seorang anak kecil yang tidak bersalah. Proses hukum terhadap pelaku akan terus berlanjut untuk mengungkap seluruh fakta dan memberikan keadilan bagi korban dan keluarganya. Masyarakat Singkawang berharap agar kejadian serupa tidak terulang kembali di masa depan.