Kerokan dalam Perspektif Antropologi Kesehatan: Tradisi Masyarakat untuk Redakan Masuk Angin
Fenomena masuk angin dan cara penanganannya melalui kerokan menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi masyarakat Indonesia. Praktik kerokan, yang melibatkan penggosokan koin atau alat serupa pada kulit yang telah diolesi minyak atau balsam, dipercaya dapat meredakan gejala tidak nyaman yang sering dikaitkan dengan masuk angin. Namun, bagaimana sebenarnya kerokan dipandang dari sudut pandang ilmiah, khususnya dalam bidang antropologi kesehatan?
Prof. Dr. Atik Triratnawati, seorang Guru Besar Antropologi Kesehatan dari Universitas Gadjah Mada (UGM), menjelaskan bahwa kerokan memiliki akar yang kuat dalam konstruksi budaya masyarakat, khususnya di Jawa. Menurutnya, konsep masuk angin sendiri erat kaitannya dengan ketidakseimbangan unsur panas dan dingin dalam tubuh. Masyarakat Jawa meyakini bahwa masuk angin terjadi ketika unsur dingin dalam tubuh terlalu dominan. Kerokan kemudian difungsikan sebagai upaya untuk mengembalikan keseimbangan tersebut.
Proses kerokan, yang menghasilkan warna merah keunguan pada kulit, dipercaya dapat meningkatkan suhu tubuh dan memberikan rasa hangat. Atik menjelaskan bahwa goresan atau gosokan pada kulit akan menstimulasi peningkatan suhu tubuh, sehingga membantu menyeimbangkan unsur panas dan dingin yang terganggu. Penelitian sebelumnya bahkan menunjukkan bahwa kerokan dapat meningkatkan suhu tubuh hingga setengah sampai dua derajat Celsius.
Kendati demikian, Atik menekankan bahwa kerokan bukanlah satu-satunya solusi untuk mengatasi masuk angin. Ia menyarankan alternatif lain yang lebih sederhana dan aman, seperti istirahat yang cukup, minum minuman hangat seperti teh atau jahe, atau melakukan pijat ringan. Pijat, menurutnya, dapat membantu meredakan ketegangan otot dan meningkatkan sirkulasi darah tanpa menimbulkan luka pada kulit.
Lebih lanjut, Atik menjelaskan bahwa masuk angin sebenarnya tidak diakui sebagai penyakit medis dalam dunia kedokteran modern. Gejala-gejala yang sering dikaitkan dengan masuk angin, seperti meriang, pegal-pegal, dan perut kembung, lebih sering didiagnosis sebagai gejala flu atau common cold. Oleh karena itu, dokter biasanya akan memberikan obat-obatan yang sesuai untuk mengatasi gejala-gejala tersebut.
Dari perspektif antropologi kesehatan, masuk angin lebih dilihat sebagai fenomena sosial budaya yang dikonstruksikan oleh masyarakat. Penyakit dipandang dari sudut pandang pasien dan komunitasnya, berdasarkan apa yang dirasakan dan bagaimana penyakit tersebut diinterpretasikan. Dengan demikian, pemahaman tentang masuk angin dan kerokan tidak hanya melibatkan aspek biologis, tetapi juga aspek sosial, budaya, dan psikologis.
Kerokan, sebagai bagian dari tradisi masyarakat, memiliki nilai dan makna tersendiri bagi mereka yang mempercayainya. Namun, penting untuk tetap mempertimbangkan alternatif pengobatan lain yang lebih aman dan sesuai dengan prinsip-prinsip kesehatan modern.