Konflik Internal Memanas, Pengurus Partai Ummat DIY Mengundurkan Diri, DPP Ungkap Kekecewaan

Gelombang dinamika internal terus mengguncang Partai Ummat, kali ini ditandai dengan keputusan pengurus wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) untuk mengundurkan diri secara kolektif. Keputusan ini diduga kuat dilatarbelakangi oleh kekecewaan mendalam terhadap kepemimpinan Majelis Syuro, khususnya terkait dengan perubahan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) partai.

DPP Partai Ummat melalui Aznur Syamsu mengakui adanya gejolak emosional yang melanda pengurus DIY. Menurutnya, akumulasi permasalahan dan dinamika internal yang disebabkan oleh konflik kepentingan di antara kubu Amien Rais menjadi pemicu utama mundurnya pengurus wilayah tersebut. Aznur menyebutkan bahwa perubahan AD/ART yang dilakukan Majelis Syuro menjadi titik krusial yang memicu ketidakpuasan di kalangan pengurus daerah.

"Mungkin emosional ya. Artinya emosionalnya mungkin karena permasalahannya sudah terlalu menumpuk. Mereka enggak sabar kayaknya," ujar Aznur dalam keterangan persnya, mengakui adanya tekanan yang dirasakan pengurus DIY.

Meski demikian, Aznur menegaskan bahwa DPP Partai Ummat masih berupaya untuk meredam situasi dan membuka ruang dialog dengan pengurus DIY. Ia berharap agar pengunduran diri ini tidak bersifat final dan pengurus DIY dapat kembali bergabung dalam barisan partai.

"Itu kan emosional aja. Itu kan belum diputuskan juga. Kalau mundur kan boleh aja. Tapi kan harus ada yang memutuskan dia mundur atau tidak. Bubar juga boleh saja. Tapi kan harus nanti diputuskan siapa yang bubar," jelasnya, menekankan pentingnya proses pengambilan keputusan yang sesuai dengan mekanisme organisasi.

DPP Partai Ummat juga berharap agar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) yang akan segera digelar dapat menjadi momentum konsolidasi dan rekonsiliasi internal. Bahkan, tidak menutup kemungkinan Rakernas akan menghasilkan keputusan untuk menggelar Musyawarah Nasional (Munas) lebih awal.

"Nah, mudah-mudahan dengan adanya Rakernas nanti, kita lihat apa keputusan Rakernas. Apakah itu mungkin akan langsung Munas, itu nanti tergantung keputusan Rakernas," kata Aznur.

Munas diharapkan dapat menjadi forum untuk menyelesaikan berbagai permasalahan internal, melakukan evaluasi terhadap kepengurusan, dan mempersiapkan partai menghadapi Pemilu mendatang.

Perubahan AD/ART yang Kontroversial

Kisruh internal Partai Ummat semakin mencuat setelah Majelis Syuro yang dipimpin Amien Rais secara mendadak mengubah AD/ART partai pada Desember 2024. Perubahan tersebut dinilai kontroversial karena menghapus mekanisme musyawarah di tingkat nasional, wilayah, dan daerah. Selain itu, mekanisme pertanggungjawaban ketua umum dan pengurus wilayah melalui musyawarah juga ditiadakan.

Langkah ini menuai protes dari sejumlah kader dan pengurus daerah yang merasa tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan penting. Mereka menilai perubahan AD/ART tersebut sebagai bentuk otoritarianisme dan berpotensi merusak soliditas partai.

Rakernas Menjadi Kunci Penyelamatan Partai

Di tengah situasi yang semakin memanas, Rakernas Partai Ummat menjadi harapan terakhir untuk menyelesaikan konflik internal dan menyelamatkan partai dari perpecahan. DPP Partai Ummat berharap agar Rakernas dapat menghasilkan solusi yang adil dan mengakomodasi kepentingan seluruh kader.

Selain itu, Rakernas juga diharapkan dapat merumuskan strategi yang efektif untuk menghadapi Pemilu mendatang. Partai Ummat harus segera berbenah diri dan memulihkan citra di mata publik jika ingin tetap eksis dalam kancah perpolitikan nasional.

Berikut point penting dalam berita:

  • Pengurus Partai Ummat DIY bubarkan diri karena kecewa terhadap Majelis Syuro.
  • DPP Partai Ummat mengakui adanya gejolak emosional di kalangan pengurus DIY.
  • Perubahan AD/ART oleh Majelis Syuro menjadi pemicu utama konflik internal.
  • Rakernas Partai Ummat diharapkan menjadi momentum konsolidasi dan rekonsiliasi.
  • Munas mungkin akan digelar lebih awal untuk menyelesaikan permasalahan internal.