Bank Indonesia Soroti Tingginya Ketidakpastian Ekonomi Global di Tengah Konflik Geopolitik
Bank Indonesia (BI) menyoroti tingginya ketidakpastian ekonomi global yang diperkirakan masih akan berlanjut. Gubernur BI, Perry Warjiyo, menyatakan bahwa kondisi ini dipicu oleh sejumlah faktor utama, yaitu negosiasi tarif perdagangan yang belum usai antara Amerika Serikat (AS) dengan beberapa negara serta meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Dalam konferensi pers virtual yang diadakan pada hari Rabu, Perry menekankan perlunya kewaspadaan serta koordinasi kebijakan yang kuat guna menjaga stabilitas ekonomi domestik dan mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan. Menurutnya, eskalasi konflik dan kebijakan perdagangan proteksionis dapat memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian global, yang pada gilirannya mempengaruhi kinerja ekonomi Indonesia.
Perry juga menyinggung mengenai pentingnya mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global. Bank sentral akan terus memperkuat berbagai respons kebijakan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, baik dari sisi permintaan domestik maupun eksternal. Kegiatan ekonomi pada triwulan II-2025 menunjukkan adanya peningkatan kinerja ekspor non-migas, yang dipengaruhi oleh percepatan ekspor ke AS sebagai respons terhadap potensi kebijakan tarif baru.
Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih lanjut, BI akan fokus pada peningkatan permintaan domestik melalui konsumsi rumah tangga dan investasi. Perry memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia akan membaik pada semester II-2025, dengan perkiraan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan untuk tahun 2025 berada dalam kisaran 4,6 hingga 5,4 persen.
Bank Indonesia berkomitmen untuk terus memperkuat sinergi dengan pemerintah dan berbagai pihak terkait guna mendorong pertumbuhan ekonomi. Hal ini akan dilakukan melalui penguatan bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran, serta melalui dukungan terhadap kebijakan stimulus fiskal dan sektor riil pemerintah, termasuk implementasi program Asta Cita. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan ekonomi Indonesia dapat tetap resilien dan tumbuh berkelanjutan di tengah tantangan global yang ada.
Faktor Pemicu Ketidakpastian Ekonomi Global:
- Negosiasi Tarif: Kelanjutan negosiasi tarif antara AS dan negara-negara lain menciptakan ketidakpastian dalam perdagangan internasional.
- Ketegangan Geopolitik: Eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi global dan pasokan energi.
Strategi Bank Indonesia:
- Koordinasi Kebijakan: Penguatan koordinasi kebijakan dengan pemerintah dan otoritas terkait untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan.
- Peningkatan Permintaan Domestik: Mendorong konsumsi rumah tangga dan investasi untuk mengurangi ketergantungan pada ekspor.
- Sinergi Kebijakan: Memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.
- Dukungan Sektor Riil: Implementasi program stimulus fiskal dan dukungan sektor riil pemerintah untuk mendorong investasi dan produktivitas.