Jejak Sejarah Matraman: Dari Strategi Militer Hingga Warisan Pengrajin Perunggu yang Terlupakan

Jakarta, sebuah kota metropolitan yang terus berkembang, menyimpan banyak cerita di balik nama-nama kawasannya. Salah satunya adalah Matraman, sebuah wilayah yang kini dikenal dengan lalu lintasnya yang padat di Jakarta Timur. Namun, siapa sangka, nama Matraman menyimpan jejak peradaban yang panjang dan kaya, mulai dari strategi militer di masa lalu hingga warisan kerajinan logam yang kini hampir terlupakan.

Nama Matraman sendiri diperkirakan berasal dari keberadaan pasukan Mataram yang pernah melakukan penyerangan ke Batavia melalui jalur darat. Menurut buku "Asal-usul Nama Tempat di Jakarta" karya Rachmat Ruchiat, kawasan ini diduga menjadi titik penting pertahanan pasukan Mataram. Di sinilah didirikan kubu-kubu militer, termasuk oleh pasukan dari Sumedang dan Ukur (Bandung sekarang), yang saat itu berada di bawah kekuasaan Kesultanan Mataram. Keberadaan pasukan ini menjadi saksi bisu pertempuran dan strategi yang pernah diterapkan di wilayah ini.

Seiring berjalannya waktu, setelah serangan Mataram mereda dan kerajaan tersebut berada di bawah pengaruh VOC, wilayah Matraman disebut-sebut diberikan kepada orang-orang Jawa yang berasal dari Mataram. Catatan dari F. de Haan menyebutkan adanya perjanjian antara Mataram dan Kompeni pada tanggal 28 Februari 1677. Dalam perjanjian tersebut, sebagian dari orang-orang Mataram diizinkan bermukim di wilayah antara Muara Beres hingga Karawang, termasuk kawasan yang kini dikenal sebagai Matraman dan sekitarnya.

Kehadiran orang-orang Mataram ini tidak hanya sebagai pendatang, tetapi juga membawa serta keterampilan khusus. Di antara mereka terdapat para pengrajin barang-barang perunggu (gangsa) yang kemudian membuka usaha di wilayah yang kini dikenal dengan nama Pegangsaan. Keberadaan para pengrajin ini menjadi cikal bakal industri kerajinan perunggu di Matraman, yang sayangnya kini semakin meredup dan terlupakan.

Selain teori mengenai pasukan Mataram, ada pula versi lain mengenai asal-usul nama Matraman. Prof. Dr. Djoko Soekiman dalam disertasinya yang berjudul Kebudayaan Indis mengemukakan bahwa nama Matraman berasal dari “Tuan Matterman”. Namun, klaim ini tidak disertai dengan sumber yang jelas, sehingga masih menjadi perdebatan di kalangan sejarawan. Ada juga dugaan bahwa nama ini berasal dari pengikut Pangeran Diponegoro yang bermukim di Batavia. Akan tetapi, teori ini diragukan karena pada tahun 1789, Matraman sudah tercatat sebagai tanah milik tuan tanah David Johannes Smith, jauh sebelum Perang Diponegoro terjadi (1825–1830).

Terlepas dari berbagai versi asal-usul nama Matraman, satu hal yang pasti adalah kawasan ini memiliki sejarah yang panjang dan kaya. Kisah Matraman tidak hanya menceritakan tentang perpindahan kekuasaan dan penduduk, tetapi juga tentang warisan keterampilan lokal yang kini nyaris hilang dalam ingatan kota. Dari kubu pertahanan militer hingga para pengrajin perunggu, Matraman adalah bagian dari Jakarta yang tidak sekadar dilewati, tetapi juga layak untuk dikenang dan dilestarikan. Upaya untuk menggali dan mempromosikan sejarah Matraman dapat menjadi cara untuk menghidupkan kembali warisan budaya yang berharga ini, serta memberikan identitas yang lebih kuat bagi kawasan tersebut.

Berikut adalah beberapa hal penting yang dapat digarisbawahi dari sejarah Matraman:

  • Asal-usul Nama: Beragam teori, mulai dari pasukan Mataram hingga nama seorang tuan tanah.
  • Peran Militer: Sebagai kubu pertahanan pasukan Mataram dalam penyerangan ke Batavia.
  • Warisan Kerajinan: Keberadaan pengrajin perunggu dari Mataram yang membuka usaha di Pegangsaan.
  • Perubahan Kepemilikan: Dari kawasan pertahanan menjadi wilayah pemukiman dan akhirnya dimiliki oleh tuan tanah.

Dengan memahami sejarah Matraman, kita dapat lebih mengapresiasi kekayaan budaya dan identitas Jakarta sebagai kota yang multikultural dan memiliki akar sejarah yang kuat. Melalui upaya pelestarian dan promosi sejarah Matraman, kita dapat memastikan bahwa warisan ini tidak akan terlupakan oleh generasi mendatang.