SMAN 70 Jakarta Gigit Jari: Nihil Lolos PPKB UI 2025, Kekecewaan Mencuat
Jakarta - Kabar mengejutkan sekaligus mengecewakan menghampiri keluarga besar SMAN 70 Jakarta. Sekolah yang dikenal memiliki rekam jejak baik dalam mengantarkan siswanya ke Universitas Indonesia (UI) melalui jalur Prestasi dan Pemerataan Kesempatan Belajar (PPKB), tahun ini harus menelan pil pahit. Tak satu pun siswa mereka berhasil lolos seleksi PPKB UI 2025.
Keterkejutan dan kekecewaan mendalam dirasakan oleh para guru dan siswa. Nur Puji Lestari, staf bidang akademik SMAN 70 Jakarta, mengungkapkan kesedihannya mewakili para guru. “Tahun ini sama sekali tidak ada yang diterima. Hal tersebut tentu membuat kami sedih, itu berita yang ya mengecewakan hati anak-anak,” ujarnya.
Ketidakberhasilan ini menjadi tanda tanya besar bagi pihak sekolah. Pasalnya, selama ini SMAN 70 Jakarta telah memberikan pendampingan intensif bagi siswanya yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri, termasuk UI. Program pendampingan meliputi pemilihan jurusan, persiapan SNBT, bimbingan belajar UTBK, hingga persiapan khusus untuk PPKB UI. Bahkan, untuk seleksi yang membutuhkan esai atau motivasi diri, sekolah menyediakan layanan konsultasi dan bantuan teknis penulisan.
Cia, seorang siswa SMAN 70 Jakarta yang gagal dalam seleksi PPKB UI 2025, mengaku sangat kecewa dan terkejut. Ia tak menyangka, dari 65 siswa yang didaftarkan, tak ada satupun yang lolos. Apalagi, jika melihat keberhasilan alumni-alumni sebelumnya, hasil ini sangat di luar dugaan.
"Jujur enggak nyangka banget, karena kalau ngelihat tahun sebelumnya, dari alumni cukup banyak dan track record mereka bagus dan aktif juga," kata Cia. Ia juga membenarkan bahwa sekolah telah berupaya maksimal dalam membimbing siswanya, termasuk memberikan pendampingan penulisan esai yang disesuaikan dengan jurusan yang dituju.
Salah satu faktor yang diduga menjadi penyebab kegagalan ini adalah perubahan prioritas penerimaan UI melalui jalur PPKB. Tahun ini, UI memprioritaskan siswa dari daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar) dalam rangka mewujudkan pemerataan kesempatan. Hal ini berarti siswa dari luar Jabodetabek memiliki peluang lebih besar dibandingkan sebelumnya.
Perubahan kebijakan ini menuai kritik karena dianggap kurang transparan. Dalmi, seorang alumni Periklanan Kreatif UI, menyayangkan kurangnya informasi yang diberikan UI terkait perubahan seleksi PPKB kali ini. "Menurut saya kekecewaan anak SMA Jabodetabek itu valid, karena belum ada informasi sebelumnya dan tentu heran karena dari sebelumnya puluhan bahkan, (tapi) tahun ini tidak ada," jelas Dalmi.
Di sisi lain, Dafina, seorang siswa dari SMA YPVDP Bontang yang berhasil lolos PPKB UI 2025, memandang bahwa kebijakan baru ini lebih adil dan sesuai dengan semangat pemerataan. "Pemerataan tahun ini ini juga fair banget biar kesempatan nggak cuma muter di sekolah-sekolah ‘langganan’ doang. Jadi semua orang jadi punya peluang yg lebih merata," kata Dafina.
Terlepas dari pro dan kontra, kegagalan SMAN 70 Jakarta dalam PPKB UI 2025 menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak. Evaluasi menyeluruh perlu dilakukan untuk memahami penyebab kegagalan dan merumuskan strategi yang lebih baik di masa depan. Transparansi informasi dari pihak UI juga sangat penting agar sekolah dan siswa dapat mempersiapkan diri dengan lebih baik.
Berikut poin-poin yang menjadi sorotan:
- Kekecewaan SMAN 70 Jakarta: Tak satu pun siswa lolos PPKB UI 2025.
- Pendampingan Intensif: Sekolah telah memberikan pendampingan maksimal bagi siswa.
- Perubahan Prioritas: UI memprioritaskan siswa dari daerah 3T.
- Kurangnya Transparansi: Perubahan kebijakan kurang disosialisasikan.
- Pemerataan Kesempatan: Kebijakan baru dinilai lebih adil oleh sebagian pihak.