Terobosan Baru dalam Pencegahan HIV: FDA Setujui Suntikan Dua Kali Setahun dengan Efektivitas Tinggi
FDA Setujui Terapi Injeksi Pencegahan HIV Dua Kali Setahun
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) telah memberikan lampu hijau untuk penggunaan obat yang sebelumnya digunakan dalam pengobatan infeksi HIV, kini sebagai langkah pencegahan terhadap virus tersebut. Keputusan ini menandai era baru dalam upaya global untuk menekan penyebaran HIV.
Gilead Sciences, perusahaan farmasi yang memproduksi obat ini, mengumumkan bahwa suntikan lenacapavir yang diberikan dua kali setahun telah disetujui di AS untuk pencegahan HIV. Obat ini akan dipasarkan dengan merek dagang Yeztugo. Hasil uji klinis menunjukkan bahwa obat ini secara signifikan mengurangi risiko infeksi HIV, memberikan perlindungan yang hampir sempurna, bahkan melebihi efektivitas metode profilaksis pra-pajanan (PrEP) yang ada saat ini.
PrEP: Evolusi Pencegahan HIV
Konsep PrEP telah menjadi andalan dalam pencegahan HIV selama bertahun-tahun. Di Amerika Serikat, PrEP umumnya melibatkan konsumsi pil harian, seperti Truvada, atau suntikan Apretude yang diberikan setiap dua bulan. Namun, kehadiran lenacapavir sebagai suntikan pencegahan HIV pertama yang hanya diberikan dua kali setahun menjadi terobosan signifikan.
Menurut Dr. Carlos del Rio, seorang profesor kedokteran terkemuka di Universitas Emory, Yeztugo berpotensi mengubah paradigma PrEP. Suntikan ini menawarkan kemungkinan peningkatan adopsi dan keberlanjutan PrEP, sekaligus menjadi alat baru yang ampuh dalam upaya mengakhiri epidemi HIV. Frekuensi pemberian yang lebih jarang dapat mengatasi kendala utama seperti kepatuhan dan stigma yang sering dihadapi individu dalam menjalani rejimen dosis PrEP yang lebih sering, terutama PrEP oral harian. Dr. del Rio juga menambahkan bahwa banyak orang membutuhkan atau menginginkan PrEP dengan dosis yang lebih jarang.
Cara Kerja Lenacapavir
Dr. Jared Baeten dari Gilead Sciences menjelaskan bahwa ketika lenacapavir hadir dalam aliran darah, ia akan menghalangi virus HIV untuk berkembang biak jika seseorang terpapar. Dengan kata lain, obat ini menghentikan perkembangan infeksi.
HIV, yang menyebar terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom atau penggunaan jarum suntik bergantian, menyerang sistem kekebalan tubuh. Jika tidak diobati, HIV dapat menyebabkan AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome). Meskipun tingkat infeksi HIV baru telah menurun di AS, diperkirakan 1,2 juta orang hidup dengan HIV, dan sekitar 13 persen dari mereka mungkin tidak menyadarinya.
Hasil Uji Klinis yang Menjanjikan
Sebuah studi bernama PURPOSE 2 menemukan bahwa dua suntikan lenacapavir setahun dapat mengurangi risiko infeksi HIV hingga 96 persen, menawarkan perlindungan yang hampir total. Studi lain, PURPOSE 1, menunjukkan kemanjuran 100 persen lenacapavir dalam pencegahan HIV pada wanita.
Dr. Baeten menyoroti bahwa lenacapavir adalah pilihan unik karena hanya diberikan dua kali setahun. Hal ini memungkinkan individu untuk mendapatkan perlindungan secara pribadi dan diskret, tanpa perlu memikirkannya selama enam bulan. Bagi banyak orang, ini bisa menjadi pilihan yang memberdayakan dan membuat pencegahan HIV lebih mudah diakses dalam kehidupan mereka.
Pengalaman Pengguna dan Harapan Masa Depan
Ian Haddock, seorang peserta dalam uji coba PURPOSE 2, berbagi pengalamannya tentang stigma, ketakutan, dan misinformasi seputar HIV. Ia mulai mengonsumsi pil PrEP harian pada tahun 2015, tetapi terkadang mengalami efek samping atau lupa meminumnya. Ketika mengetahui tentang uji klinis lenacapavir pada Januari 2024, ia segera mendaftar dan tidak mengalami efek samping selain iritasi ringan di tempat suntikan.
Setelah uji klinis berakhir, Haddock berencana untuk terus menerima suntikan lenacapavir dua kali setahun. Ia berharap persetujuan FDA akan meningkatkan kesadaran akan alat pencegahan HIV yang efektif ini.
Dampak Signifikan pada Pencegahan HIV
Gilead Sciences merilis data dari uji coba PURPOSE 2 yang menunjukkan bahwa 99 persen peserta yang menerima suntikan lenacapavir dua kali setahun tidak terinfeksi HIV. Dalam studi tersebut, hanya ada dua kasus infeksi di antara 2.180 orang, yang menunjukkan efektivitas 89 persen lebih tinggi dibandingkan pil PrEP Truvada.
Efek samping yang paling umum adalah reaksi di tempat suntikan, seperti ruam atau rasa tidak nyaman. Uji coba PURPOSE 2 melibatkan pria cisgender, pria transgender, wanita transgender, dan orang nonbiner berusia 16 tahun atau lebih yang berhubungan seks dengan pasangan yang ditetapkan sebagai laki-laki saat lahir.
Daniel O'Day, ketua dan CEO Gilead Sciences, menyebut persetujuan lenacapavir sebagai momen penting dalam perjuangan melawan HIV. Dengan pemberian dua kali setahun dan kemanjuran yang luar biasa, lenacapavir berpotensi membantu mencegah HIV dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.