Meta Berburu Talenta AI Global dengan Tawaran Gaji Fantastis
Meta, perusahaan induk Facebook dan Instagram, dikabarkan tengah gencar mencari para ahli di bidang kecerdasan buatan (AI) untuk bergabung dalam tim khusus yang dinamakan "Superintelligence". Langkah ini diambil sebagai upaya Meta untuk memperkuat posisinya dalam persaingan ketat di ranah AI, bersaing langsung dengan raksasa teknologi lainnya seperti Google dan OpenAI.
Rumor yang beredar menyebutkan bahwa Mark Zuckerberg, CEO Meta, secara pribadi turun tangan dalam proses perekrutan ini. Ia bahkan menawarkan paket kompensasi yang sangat menarik untuk menarik minat para kandidat terbaik di bidang AI. Deedy Das, seorang staf di perusahaan modal ventura Menlo Ventures, mengungkapkan bahwa Zuckerberg menawarkan gaji minimum sebesar 2 juta dollar AS per tahun, atau sekitar Rp 32,6 miliar, untuk posisi tertentu di tim Superintelligence. Bahkan, untuk posisi yang lebih senior dan spesifik, Zuckerberg disebut-sebut berani menegosiasikan tambahan 10 juta dollar AS per tahun dalam bentuk tunai. Jika ditotal, gaji seorang pakar AI di lab Meta bisa mencapai Rp 13,5 miliar per bulan.
Tawaran menggiurkan ini rupanya berhasil menarik perhatian beberapa profesional AI terkemuka. Jack Rae, seorang peneliti utama di Google DeepMind, dikabarkan akan bergabung dengan tim AI Meta. Selain itu, Johan Schalkwyk, yang sebelumnya memimpin machine learning di startup Sesame AI, juga disebut-sebut tertarik dengan tawaran Meta. Meskipun demikian, beberapa kandidat lain memilih untuk menerima tawaran dari OpenAI dan Anthropic karena alasan ketersediaan akses ke sumber daya komputasi yang lebih memadai.
Persaingan untuk mendapatkan talenta AI memang sangat ketat. Laporan dari Fortune menyebutkan bahwa jumlah pakar AI yang memiliki kualifikasi untuk membuat model AI paling canggih saat ini diperkirakan kurang dari 1.000 orang di seluruh dunia. Hal ini membuat perusahaan-perusahaan teknologi berlomba-lomba memberikan kompensasi yang menarik untuk merekrut dan mempertahankan para ahli AI.
Namun, Meta juga menghadapi tantangan dalam mempertahankan talenta AI yang sudah ada. Data dari perusahaan modal ventura SignalFire menunjukkan bahwa Meta mengalami attrition rate (tingkat pengunduran diri karyawan) sebesar 4,3 persen untuk talenta AI pada tahun 2024. Angka ini menempatkan Meta sebagai perusahaan dengan attrition rate tertinggi kedua setelah Google. Anthropic, di sisi lain, tercatat memiliki tingkat retensi talenta AI tertinggi, yaitu 80 persen untuk karyawan yang direkrut pada tahun 2021 - Februari 2023.
Tingginya tingkat retensi karyawan di Anthropic menjadi indikasi bahwa perusahaan ini berhasil menciptakan lingkungan kerja yang kondusif bagi para ahli AI. Hal ini menunjukkan bahwa kompensasi yang menarik bukan satu-satunya faktor yang menentukan pilihan seorang ahli AI. Faktor-faktor lain seperti budaya perusahaan, peluang pengembangan karir, dan akses ke sumber daya komputasi juga memegang peranan penting dalam menarik dan mempertahankan talenta AI terbaik.
Masih belum jelas produk atau layanan apa yang akan dikembangkan oleh tim Superintelligence di Meta. Namun, yang pasti, investasi besar-besaran Meta di bidang AI menunjukkan bahwa perusahaan ini serius untuk bersaing di era kecerdasan buatan. Keberhasilan Meta dalam merekrut dan mempertahankan talenta AI akan menjadi kunci untuk mencapai ambisi tersebut.
- Meta berupaya merekrut 50 ahli AI.
- Gaji yang ditawarkan sebesar 2 juta dollar AS per tahun atau sekitar Rp 32,6 miliar.
- Meta kehilangan 4,3 persen talenta AI.
- Anthropic tercatat memiliki tingkat retensi talenta AI tertinggi yaitu 80 persen.